Pernah Aniaya Mertua Laki-lakinya Gegara Dinasehati Jangan Cemburui Istrinya, Habel Poddalah Kini Menyesal Usai Bunuh Istrinya di Timika

8059
Habel Poddalah kini hanya bisa menyesali perbuatannya telah membunuh istrinya, Serlin Pare, 35 tahun. Pria asal Sa'dan, Toraja Utara ini kini menjalani proses hukum di Mapolres Mimika Baru.
ADVERTISEMENT

KORANSERUYA.COM–Habel Poddalah kini hanya bisa menyesali perbuatannya telah membunuh istrinya, Serlin Pare, 35 tahun. Pria asal Sa’dan, Toraja Utara ini kini menjalani proses hukum di Mapolres Mimika Baru.

Shertin Linggi, adik korban, sangat berduka atas kematian tragis kakaknya. Menurut Sherlin, jenazah kakaknya akan dibawa ke kampung halamannya di Mendetek, Makale, Tana Toraja, untuk dimakamkan.

ADVERTISEMENT

“Kami berharap, pelaku dihukum seberat-beratnya. Dia sudah membunuh kakakku,” ujar Shertin kepada wartawan di rumah duka di Jalan Yos Sudarso, Nawaripi, Lorong Masjid Al-Maliki Timika, Papua, Kamis (23/9/2021).

Keluarga Serlin sangat menyesalkan kejadian itu dan mengutuk pelaku. Di mata Shertin, Habel Poddalah adalah sosok suami kasar, pemarah, dan pecemburu. Bahkan, tahun 2020, Habel sudah dinasehati mertua laki-lakinya agar tidak kasar kepada istrinya dan tidak mencemburui istrinya setiap pulang berjualan di pasar.

Bukannya menerima nasehat mertua laki-lakinya, Habel malah marah dan memukulnya. ”
Bapak peringatkan dia (Habel) supaya jangan cemburu, karena namanya di pasar jualan kita semua saudara. Suaminya kan cemburuan sama tukang ojek, apalah, dia cemburui semua. Akhirnya bapak tegur, malah bapak yang dipukuli pakai balok-balok,” kisah Shertin.


Alm. Serlin Pare bersama anaknya semasa hidup. (ft/ist facebook Habel Poddalah)

Kasus pembunuhan wanita asal Mendetek, Makale, Tana Toraja ini, sangat sadis. Korban yang memiliki tiga anak ini mengalami luka terbuka pada bagian kepala, pundak dan lengan kanan. Tengkorak sisi kanan pecah, tulang lengan kanan patah, dan bagian pundak mengalami memar akibat pukulan benda padat yang diduga menggunakan kayu balok. “Kakakku dibunuh secara sadis,” kata Shertin, terisak.

Diberitakan sebelumnya, seorang ibu rumah tangga (IRT) asal Mendetek, Kota Makale, Kabupaten Tana Toraja, bernama Serlin Pare, 35 tahun, dibunuh suaminya sendiri bernama Habel Poddala, 41 tahun, Rabu (23/9/2021) malam lalu, sekitar pukul 21:00 Wita.

Habel Poddalah, suami korban asal Sa’dan, Toraja Utara, diduga membunuh istrinya lantaran cemburu buta. Usai membunuh istrinya, dia menyerahkan diri ke
Polres Mikika Baru, Papua. Dia telah ditetapkan tersangka dan menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Mimika Baru, Papua, Kamis (23/9/2021).

Habel menghabisi nyawa istrinya di rumahnya di Jalan Yos Sudarso, Nawaripi, Lorong Masjid Al-Maliki Timika, Papua. Korban mengalami luka serius di kepala dan bahunya diduga bekas hantaman benda tumpul.

Alm. Serlin Pare dan kondisi mayatnya usai dibunuh suaminya. (ft/ist)

Kanit PPA Polres Mimika Baru, Iptu Fanny Silvia, mengatakan, pihaknya masih mendalami dugaan motif Habel menghabisi nyawa istrinya, saat bertengkar pada Rabu
malam. Untuk mengungkap motif kasus ini, sejumlah saksi diperiksa.

“Dugaan sementara karena cemburu. Tetapi perlu pendalaman penyidikan, agar bisa dipastikan motifnya,” kata Iptu Fanny kepada wartawan di Kantornya, Kamis
(23/9/2021).

Iptu Fanny mengakui, Habel usai membunuh istrinya menyerahkan diri ke polisi. “Pelaku mengakui perbuatannya dan menyesal telah membunuh istrinya,” kata Iptu
Fanny, seraya menambahkan, anak korban dijadikan saksi kunci dalam kasus ini.

Salah seorang anak korban bernama Arjun Poddalah, mengaku menemukan ibunya bersimbah darah saat masuk ke rumahnya. Namun saat itu, korban belum meninggal
dunia, karena Arjun masih melihat tubuh ibunya bergerak dan meminta tolong. Arjun kemudian berlari ke rumah neneknya yang tak jauh dari rumahnya, untuk
memberitahukan bahwa ibunya berlumuran darah di rumah.

Arjun juga berteriak meminta tolong, sehingga teriakannya didengar kakaknya, Haser Poddalah, dan tetangga lainnya.

Haser Poddalah, 16 tahun, mengaku saat ibunya dianiaya oleh bapaknya, dia sedang berada di rumah temannya, tak jauh dari rumahnya. Dia baru tahu ibunya
berlumuran darah dan meninggal dunia, setelah mendengar teriakan adiknya. Anak pertama korban ini langsung berlari ke rumahnya. Dia menemukan ibunya terkapar
bersimbah darah.

Haser mengaku, sebelumnya dirinya sempat mendengar kedua orangtuanya bertengkar. Karena itu, dia takut pulang ke rumah. “Saya sempat dengar ibu sama bapak
bertengkar, makanya saya takut pulang ke rumah. Saya baru tahu ibu meninggal saat pulang ke rumah mendengar teriakan adikku,” kata Haser. (junias rombe)

ADVERTISEMENT