Begini Kesaksian Anak-Anak Istri Asal Makale Toraja yang Dibunuh Suaminya di Timika… Mama Masih Bergerak Tapi Berlumuran Darah

3950
Alm. Serlin Pare bersama anaknya semasa hidup. (ft/ist facebook Habel Poddalah)
ADVERTISEMENT

KORANSERUYA.COM–Habel Poddalah, 41 tahun, suami asal Sa’dan, Toraja Utara, Sulsel, yang diduga membunuh istrinya lantaran cemburu buta, menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Mimika Baru, Papua, Kamis (23/9/2021). Habel menyerahkan diri beberapa jam setelah menganiaya istrinya, Serlin Pare, 35 tahun, di rumahnya di Jalan Jalan Yos Sudarso, Nawaripi, Lorong Masjid Al-Maliki Timika, Rabu (22/9/2021) malam lalu, sekitar pukul 19.00 WIT.

Serlin Pare, wanita asal Mendetek, Makale, Tana Toraja ini, direncanakan akan dibawa keluarganya ke kampung halamannya untuk dimakamkan. Saat ini, jenazah korban masih disemayamkan di rumah duka.

ADVERTISEMENT

Kanit PPA Polres Mimika Baru, Iptu Fanny Silvia, mengatakan, pihaknya masih mendalami dugaan motif Habel menghabisi nyawa istrinya saat bertengkar pada Rabu malam. Untuk mengungkap motif kasus ini, sejumlah saksi diperiksa.

“Dugaan sementara karena cemburu. Tetapi perlu pendalaman penyidikan, agar bisa dipastikan motifnya,” kata Iptu Fanny kepada wartawan di Kantornya, Kamis (23/9/2021).

Iptu Fanny mengakui, Habel usai membunuh istrinya menyerahkan diri ke polisi. “Pelaku mengakui perbuatannya dan menyesal telah membunuh istrinya,” kata Iptu Fanny, seraya menambahkan, anak korban dijadikan saksi kunci dalam kasus ini.

Pelaku, Habel Poddala berfoto bersama istrinya . (Foto IST)

Salah seorang anak korban bernama Arjun Poddalah, mengaku menemukan ibunya bersimbah darah saat masuk ke rumahnya. Namun saat itu, korban belum meninggal dunia, karena Arjun masih melihat tubuh ibunya bergerak dan meminta tolong. Arjun kemudian berlari ke rumah neneknya yang tak jauh dari rumahnya, untuk memberitahukan bahwa ibunya berlumuran darah di rumah.

Arjun juga berteriak meminta tolong, sehingga teriakannya didengar kakaknya, Haser Poddalah, dan tetangga lainnya.

Haser Poddalah, 16 tahun, mengaku saat ibunya dianiaya oleh bapaknya, dia sedang berada di rumah temannya, tak jauh dari rumahnya. Dia baru tahu ibunya berlumuran darah dan meninggal dunia, setelah mendengar teriakan adiknya. Anak pertama korban ini langsung berlari ke rumahnya. Dia menemukan ibunya terkapar bersimbah darah.

Haser mengaku, sebelumnya dirinya sempat mendengar kedua orangtuanya bertengkar. Karena itu, dia takut pulang ke rumah. “Saya sempat dengar ibu sama bapak bertengkar, makanya saya takut pulang ke rumah. Saya baru tahu ibu meninggal saat pulang ke rumah mendengar teriakan adikku,” kata Haser, dilansir KORAN SERUYA dari seputarpapua.com.

Diberitakan media ini sebelumnya, korban sempat dilarikan ke RSUD Timika oleh ibu dan adiknya bernama Shertin Linggi. Namun nyawa ibu tiga anak ini tidak terselamatkan akibat luka serius pada kepala dan bahunya. “Kami sudah berusaha menolong kakak saya dengan membawanya ke rumah sakit, tapi sudah meninggal dunia,” kata Shertin.

Sesuai hasil visum dokter, urai Shertin, ditemukan beberapa luka di tubuh kakaknya. Luka paling serius kepala korban dan keluar darah dari hidung dan mulut.

Menurut Shertin, keluarganya menduga Habel tega membunuh istrinya karena cemburu buta. Belakangan ini, suami istri ini kerap bertengkar. “Dugaan sementara karena cemburu,” katanya.


Alm. Serlin Pare dan kondisi mayatnya usai dibunuh suaminya. (ft/ist)

Shertin menceritakan, setiap harinya kakaknya berjualan di Pasar Timika, sedangkan suaminya lebih banyak di rumah karena tidak memiliki pekerjaan tetap. Setiap pulang dari pasar, Habel menaruh kecurigaan kepada istrinya. Apalagi jika di pasar, istrinya duduk atau berbicara dengan pria, maka Habel langsung cemburu dan menuduh istrinya berselingkuh.

Padahal, tudingan itu tidak benar. Shertin menyebut, kakaknya tidak berselingkuh karena mereka sama-sama berjualan di pasar. “Hampir setiap pulang dari pasar, pelaku cek HP istrinya. Suami kakakku sangat pencemburu,” katanya.

Keluarga korban berharap, Habel dihukum seberat-beratnya karena telah membunuh istrinya, yang selama ini diajak merantau ke Timika mencari kehidupan. Rencananya, jenazah korban akan dibawah ke kampung halamannya di Makale, Tana Toraja. (junias rombe)

ADVERTISEMENT