Sopir Asal Luwu Timur Ditemukan Tewas di Poros Walenrang-Toraja

792
Ilustrasi
ADVERTISEMENT

WALENRANG – Suparman alias Arrang (45) sopir asal Desa Balambano, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan itu, ditemukan tewas Selasa (20/4/2021).

Mayatnya ditemukan oleh warga dalam kondisi tergeletak di poros Walenrang-Toraja, tepatnya di Dusun Uru, Desa Ilan Batu Uru, Kecamatan Walenrang Barat, Kabupaten Luwu.

ADVERTISEMENT

Jasadnya ditemukan tidak jauh dari sebuah mobil pick up yang terparkir di sekitar lokasi. Hal itu diketahui melalui postingan halaman Facebook Palopo Info.

Pada postingan itu Palopo Info membagikan video berdurasi 23 detik. Dalam video itu, terlihat sesosok mayat tergeletak di pinggir jalan.

ADVERTISEMENT

Terlihat pula puluhan warga yang berada di lokasi. Mereka tampak tidak berani mendekati mayat. Dalam postingan itu, Palopo Info juga menulis caption.

“Seorang bapak ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di jalan menuju Toraja, Desa Ilan Batu Uru, Kecamatan Walenrang Barat, Kabupaten Luwu. Belum diketahui penyebab pasti bapak meninggal tersebut” tulis Palopo Info

ADVERTISEMENT

Kapolsek Walenrang, AKP Samuji mengatakan, jika pihaknya langsung menuju ke lokasi, usai mendapat informasi dari warga terkait kejadian tersebut.

Samuji mengatakan, saksi pertamakali melihat mayat korban sekitar pukul 06.30 WITA. Mayat dalam posisi terlentang di pinggir jalan.

Dengan jarak sekitar lima meter dari mobil yang diduga miliknya. “Saat korban ditemukan oleh warga, memang sudah dalam keadaan tidak bernyawa,” kata Samuji.

Salah satu saksi, lanjut Samuji adalah Kepala Dusun Uru, Pardin (43). “Pardin ini yang menghubungi kami,” sambungnya.

Selanjutnya pihak kepolisian bersama petugas Puskesmas Walenrang Barat mendatangi TKP. Melakukan pemeriksaan awal terhadap korban. Hasilnya tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada diri korban. “Diduga korban meninggal dunia dikarenakan sakit,” katanya.

Aparat kepolisian juga telah menghubungi keluarga korban. Keluarganya kemudian menolak untuk dilakukan outopsi. Mereka memilih langsung membawa mayat ke kampung halamannya.

“Keluarga korban menolak dilakukan outopsi dan menerima dengan ikhlas kejadian ini,” tutup Samuji. (*)

ADVERTISEMENT