Atasi Sistem Drainase Bermasalah di Musim Penghujan, Survei Langsung ke Lapangan, PUPR Palopo Buat Pemetaan dan Perencanaan

341

PALOPO–Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) melakukan survei lapangan terhadap beberapa titik di kota Palopo yang sistem saluran pembuangan air atau drainasenya mengalami gangguan dan kerap menimbulkan genangan/banjir.

Hal ini dikemukakan Kepala Dinas PUPR Ansar Dachri melalui Kepala Bidang Cipta Karya Natsir Arif ST, usai melakukan peninjauan di kawasan dekat SMAN 5 Palopo, Kelurahan Takkalala Kecamatan Wara Selatan, dan di kawasan Pongsimpin serta Jalan Poros (dr Ratulangi) di Kel. Balandai, Palopo, Senin (20/1).

“Survey ke lokasi oleh Tim Dinas PUPR ke beberapa titik rawan terdampak banjir dan genangan hari ini untuk rencana penanganan taktis masalah tersebut,” terang Natsir saat dihubungi siang kemarin (20/1).

Lanjut Natsir, kita belum sampai ke desain teknis, ini masih dalam rangka mencari solusi jangka pendek dan rencana jangka panjang penanganan untuk antisipasi banjir, bentuk penanganan mungkin berbeda untuk tiap titiknya, hasil survei tadi baru mau diolah data awalnya untuk pemilihan teknis penanganan, ucapnya buru-buru menambahkan.

Bentuknya mungkin, kata dia lagi, bisa jadi berupa normalisasi saluran, pemasangan box culvert untuk drainase tertutup, pemotongan badan jalan untuk plat saluran yang mesti dikonsultasikan dengan Balai di Provinsi, demikian pula pemasangan saluran U-Ditch di area bahu jalan yang rawan terdampak genangan, tambahnya lagi.

Ia juga menginformasikan, jika hasil olahan data yang disusun baru sebatas konsep penanganan, “ini dulu ya, sebelum kita finalkan sebagai laporan Pak Sekda untuk diteruskan ke Pak Walikota,” jelasnya.

Adapun hasil pendataan ini akan dibuatkan semacam proposal bantuan ke Kementerian teknis untuk penanganan jangka pendek, bisa juga diharapkan bantuan Pemprov Sulsel, atau belum dianggarkan untuk APBD Palopo.

“Ini untuk penanganan jangka panjang mungkin butuh anggaran yang lumayan besar, untuk 1 titik pengalihan debit air saja untuk wilayah Pongsimpin, ancar-ancar alias taksiran anggaran awalnya minimal sekitar Rp3-4 Miliar,” Natsir menandaskan. (Iys)