Erupsi Anak Krakatau dan Dentuman yang Terdengar Munculkan Beragam Spekulasi, Warganet Geger

874
ADVERTISEMENT

KORANSERUYA–Erupsi yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau di Lampung, sekira pukul 21.58 WIB, Jumat (10/4) dan setelahnya terdengar atau menimbulkan dentuman membuat sejumlah warga Jakarta termasuk warganet di beragam sosial media ikut penasaran.

Siapa Kandidat Pasangan Calon Bupati/Wakil Bupati Luwu Timur 2020-2025 Pilihan Anda ?
1. Irwan Bachry Syam-Andi Muhammad Rio Pattiwiri Hatta (Ibas-Andi Rio)
2. HM Thoriq Husler-Budiman Hakim (MTH Berbudi)
Dibuat Oleh Seruya Poll

Selain di kawasan Depok, Jawa Barat, dentuman juga konon kabarnya terdengar di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dentuman ini terdengar berulang kali.

Dentuman ini terdengar di kawasan Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (11/4/2020) pukul 02.30 WIB dini hari, melansir Detikcom.

Suara dentuman terdengar cenderung berfrekuensi rendah, namun tak sampai menggetarkan bangunan. Terkadang bunyinya pelan, namun sesekali terdengar lebih keras.

ADVERTISEMENT

Bunyi dentuman terdengar dari udara, bukan dari dalam bumi. Belum jelas betul suara dentuman ini. Sesekali, dentuman ini mirip guntur, namun gemuruhnya tidak sepanjang guntur.

Hujan sudah reda sejak sekitar tiga jam lalu. Tak ada warga yang berbondong-bondong keluar rumah, hingga saat ini.

ADVERTISEMENT
Siapa Kandidat Pasangan Calon Bupati/Wakil Bupati Luwu Utara 2020-2025 Pilihan Anda ?
1. Arsyad Kasmar-Andi Sukma (AKAS)
2. Indah Putri Indriani-Suaib Mansur (IDAMAN)
3. Thahar Rum-Rahmat Laguni (MATAHARI)
Created with Seruya Poll

Berdasarkan pantauan di kawasan Depok, Jawa Barat, dentuman ini terasa menggetarkan pintu rumah.

Sementara itu tagar #dentuman kata “Dajjal”, “Indigo” dan “Kiamat” yang jadi trending topik membuat warganet di Twitter penasaran. Ada juga yang menggunggah video saat terjadinya dentuman tersebut.

Dentuman misterius yang dibantah BMKG bukan bersumber dari Gunung Anak Krakatau menimbulkan spekulasi.

Ada yang menyebut itu sebagai tanda turunnya Dajjal ke bumi, ada juga bahkan yang menyebut itu ciri-ciri kiamat.

Seperti akun @EelWulanda yang menulis: Dari semua trending cuma mau kasih pesan: Sholatnya di jaga, jangan lupa sama yang wajib wajib, nih bumi udah tua. Udah banyak tingkahnyakan. Tobat gih, tobat. sambil membubuhkan tagar #kiamat #dentuman #dajjal Indigo Kisah Tanah Jawa. 

Jika memang ini takdir di tahun ini, sebagai manusia hanya bisa mengikhlaskan diri bahwasanya semua yang terjadi adalah kehendakmu ya tuhan, kata akun @dexrojes27 sambil menyelipkan emotikon tangan berdoa/mohon ampun.

Sedangkan warganet lainnya banyak yang mengunggah berbagai video suara dentuman keras dari rumah mereka.

Mereka mengklaim bahwa dentuman tersebut berasal dari letusan Gunung Anak Krakatau. Selain itu, mereka juga meminta agar warganet lainnya berdoa dan tetap aman.

Artis Enzy Storia melalui akunnya @EnzyStoria pun menjadi salah satu warganet yang mendengar suara dentuman di rumahnya.

“Ini rumah gue daritadi kaya kedengeran suara dentuman dentuman.. ya Allah ada apa lagi,” tulis Enzy Storia, dilansir Liputan6.

Trending Topic Twitter Sabtu (11/4)

Erupsi Anak Krakatau

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian ESDM mengabarkan bahwa telah terjadi erupsi Gujung Anak Krakatau, (Jumat/4/2020) sekitarpukul 21.58 WIB dan pukul 22.35 WIB.

Terkait dengan peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut tersebut hasil monitoring muka laut dan seismik oleh BMKG menunjukkan sebagai beberapa fenomena.

“Hasil monitoring muka laut menggunakan tide gauge di Pantai Kota Agung, Pelabuhan Panjang, Binuangen, dan Marina Jambu menunjukkan tidak ada anomali perubahan muka laut sejak 10 April 2020 pukul 21.00 tadi malam hingga pagi ini, 11 April 2020 pukul 6.00 WIB,” kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono seperti dilansir dari Suara.com.

Sementara itu, hasil monitoring muka laut menggunakan Radar Wera yang berlokasi di Kahai, Lampung dan Tanjung Lesung, Banten juga menunjukkan tidak ada anomali muka laut sejak 10 April 2020 pukul 21.00 tadi malam hingga pagi ini 11 April 2020 pukul 6.00 WIB.

“Sehingga berdasarkan monitoring muka laut yang dilakukan BMKG menggunakan Tide Gauge dan Radar Wera menunjukkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau tadi malam tidak memicu terjadinya tsunami,” katanya.

Monitoring Seismik

Hasil monitoring kegempaan yang dilakukan oleh BMKG tepat pada saat terjadinya erupsi yaitu pukul 21.58 WIB dan pukul 22.35 WIB menunjukkan bahwa sensor BMKG tidak mencatat adanya aktivitas seismik.

Sehingga erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini berdasarkan catatan sensor BMKG lebih lemah dibandingkan erupsi yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu.

“Ada satu hal menarik terkait hasil monitoring seismik oleh BMKG dimana pada pukul 22.59 hingga 23.00 WIB beberapa sensor seismik BMKG baik eksisting dan sensor baru yang dipasang tahun 2019 mencatat adanya event gempa di Selat Sunda dengan sangat baik. Sensor seismik BMKG tersebut adalah (1) CGJI (Cigeulis, Banten), (2) WLJI (Wonosalam, Banten), (3) PSSM (Pematang Sawah, Lampung), (4) LLSM (Limau, Lampung), (5) KASI (Kota Agung, Lampung), (6) CSJI (Ciracap, Jawa Barat), dan (7) KLSI (Kotabumi. Lampung),” terangnya.

Hasil analisis BMKG terkait gempa tersebut menunjukkan telah terjadi gempa tektonik di Selat Sunda pada pukul 22.59 WIB dengan magnitudo M 2,4 episenter terletak pada koordinat 6,66 LS dan 105,14 BT tepatnya di laut pada jarak 70 km arah Selatan Baratdaya G. Anak Krakatau pada kedalaman 13 km.

Soal Bunyi Dentuman

Terkait suara dentuman yang beberapa kali terdengar dan membuat resah masyarakat Jabodetabek, maka sejak tadi malam hingga pagi hari ini pukul 06.00 WIB hasil pemantauan BMKG menunjukkan tidak terjadi aktivitas gempa tektonik yang kekuatannya signifikan di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Provinsi Banten.

“Meskipun ada aktivitas gempa kecil di Selat Sunda pada pukul 22.59 WIB dengan magnitudo M 2,4 tetapi gempa ini kekuatannya tidak signifikan dan tidak dirasakan oleh masyarakat. Berdasarkan data tersebut maka BMKG memastikan bahwa suara dentuman tersebut tidak bersumber dari aktivitas gempa tektonik,” ujarnya. (*/iys)

ADVERTISEMENT