PNS Palopo Ini Sukses Ternak Ayam Kampung, Andi Arrow: Usaha Sampingan Menguntungkan Bagi ASN

18253
Andi Arrow di kandang ternak ayam kampungnya
ADVERTISEMENT

PALOPO–Andi Arrow, 45 tahun, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Kota Palopo, memilih berternak ayam kampung sebagai usaha sampingan untuk mengisi kekosongan waktu setelah pulang bekerja. Awalnya iseng-iseng memelihara ayam kampung, namun ternyata hasilnya lumayan. Akhirnya, dia fokus mengembangkan usaha ternaknya yang dinilai bisa menopang dapur keluarga.

Ayah dua anak ini berpikir keras, bagaimana mengembangkan usaha ternak ayamnya. Dia tidak memiliki lahan yang luas untuk membangun kandang ayam. Akhirnya, dia memutuskan membangun kandang ayam di halaman rumahnya. Prinsipnya memanfaatkan pekarangan rumah dengan membangun kandang ukuran 7 meter X 9 meter.

“Saya memanfaatkan halaman rumah untuk bangun kandang ayam. Meski tidak luas, kandang ukuran 7 meter X 9 meter ini bisa tampung sekitar 1.000 ekor ayam,” kata Andi Arrow, mengisahkan awal mula dirinya menekuni usaha samping ternak ayam kampung.

Jenis ayam yang diternak Arrow, yakni ayam kampung unggul Balitbantan. “Jenis ayam kampung ini paling cocok diternak, cepat dan hasilnya lumayan,” katanya.

ADVERTISEMENT

Arrow mengaku terinspirasi dari Walikota Palopo, HM Judas Amir, sehingga dirinya memulai usaha ternak ayam kampung. Walikota Palopo memprogramkan 1.000 kandang ayam di periode pertama pemerintahannya di Kota Palopo. Untuk mendukung program tersebut, Pemkot Palopo melalui Dinas Peternakan membuka UPTD Mancani yang khusus memproduksi bibit ayam atau DOC. Bibit ayam ini dibagikan kepada peternak, dengan harga Rp5.000 per ekor.

“Dalam berbagai kesempatan bertemu Pak Walikota, Beliau selalu bercerita mengenai mimpinya warga Palopo bisa berpenghasilan dari usaha ternak ayam kampung. Termasuk PNS yang mau buka usaha sampingan. Cerita Pak Walikota mengilhami saya untuk mulai berpikir membangun kandang di depan rumah. Alhamdulillah, usaha ternak ini sudah berjalan hampir 6 bulan dan sudah dua kali panen besar,” kata Arrow.

Arrow mengaku sangat gembira, karena panen keduanya bertepatan perayaan Idulfitri 1 Syawal 1441 H. “Untungnya lumayan, paling tidak bisa menambah penghasilan untuk keluarga,” kata Arrow.

Menurut Arrow, kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam masih sangat tinggi. Angka kebutuhan ini pun terus meningkat setiap bulan, apalagi kian menjamurnya usaha rumah makan dan kuliner di Palopo. Selain itu, bisnis bidang ternak juga mudah dijalankan. Bisnis ini bisa dilakukan di sela-sela pekerjaan utama.

“Ternak ayam kampung hanya membutuhkan perhatian saat memberi makan saja pada pagi hari dan sore,” terangnya.

Di awal memulai bisnis ini, kata Arrow, modal yang dibutuhkan sekitar Rp25 juta. Modal ini untuk membuat kandang ukuran 7 meter X 9 meter, beli bibit ayam atau DOC, termasuk pakannya. “Tapi usaha ini sangat menjanjikan,” katanya.

Meski mudah, bisnis ayam kampung juga memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang. Hal pertama yang perlu direncanakan adalah perbandingan luas pekarangan rumah dan jumlah ayam yang akan dipelihara.

Pengetahuan mengenai budidaya ayam secara garis besar juga perlu kuasai, kata Arrow, salah satunya risiko. “Risiko paling berat adalah resiko kematian, biasa karena penyakit,” terangnya.

Menurut Arrow, kandang yang baik untuk memelihara ayam kampung adalah kandang ayam dengan sebagian diberi atap dan sebagiannya lagi dibiarkan secara terbuka.

“Bagian kandang yang tertutup itulah yang biasa digunakan ayam kampung untuk berteduh dan tidur, sedangkan bagian terbuka untuk makan dan bermain,”terangnya.

Jangan lupa juga untuk memberikan vaksinasi terhadap ayam-ayam ternak tersebut. Apalagi jika untuk membangun kandang ayam di tengah di depan rumah, termasuk di sekitar pemukiman warga.

Lantas, bagaimana dengan bibit? Arrow menyarankan, sebaiknya jangan membeli bibit Day Old Chick (DOC) yang berusia satu hari sampai tujuh hari. Belilah ayam yang sudah dara atau sudah berusia sekitar 20 hari karena perawatannya lebih mudah.

Kata dia, bibit ayam DOC perawatannya lebih susah, karena memerlukan makanan khusus harus divaksinasi dan harus dihangatkan. ” Tapi paling penting adalah pemeliharaan kesehatan, penanganan saat panen dan setelah panen,” tutur dia.

Kini, untuk kesinambungan usahanya, Arrow membeli mesin giling jagung untuk pakan ternak ayam kampungnya. Tak hanya itu, dia juga mendirikan usaha ‘Raja Unggas Group’, untuk merintis asosiasi peternak ayam kampung di Kota Palopo. (tari)

ADVERTISEMENT