RDP dengan Komisi I DPRD Palopo, Keluarga Pasien Covid “Serbu” Satgas dan Direksi Rumkit, Begini Penjelasan Kadis Kesehatan

141
Rapat Dengar Pendapat (RDP) oleh Komisi I di ruang musyawarah DPRD Palopo, Senin 11/1/2021. (Foto: Har/Koran Seruya)
ADVERTISEMENT

PALOPO–Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi I DPRD Kota Palopo yang digelar di Ruang Musyawarah DPRD kota Palopo berlangsung alot dan mengundang sedikit ketegangan, Senin, 11 Januari 2021.

Dalam RDP tersebut selain Komisi I, II dan III, musyawarah juga dihadiri semua direktur Rumah Sakit se kota Palopo para aktivis, dan sejumlah keluarga yang pernah terpapar Covid-19 serta sejumlah awak media.

ADVERTISEMENT

Rapat dibuka dengan mendengarkan keluhan keluarga mantan pasien Covid-19, Arifin (Iping) yang juga merupakan aktivis Gerakan Aksi Mahasiswa (Geram).

Dalam statemennya Iping mengungkapkan kekecewaan kepada pihak RS At-Medika karena dianggap telah melakukan malpraktek.

ADVERTISEMENT

“Kedatangan kami disini karena tiga aspek, yang pertama karena kemanusiaan, yang kedua aspek administrasi, dan aspek regulasi,” tegas Iping.

Forum musyawarah pun mulai tegang ketika statemen Iping disambung dengan nada tinggi oleh keluarga korban lainnya, Ridwan Fattah (Kak Lie) yang juga pemilik salah satu Warkop di kota Palopo.

ADVERTISEMENT

Anggota Komisi II Budirani Ratu, mengatakan ada miskomunikasi antara Satgas Covid-19 dengan tenaga medis di rumah sakit sehingga menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.

“Masyarakat jadi bingung, ditambah lagi Kota Palopo sampai jadi tontonan di Inews TV karena tingginya penyebaran Corona, kita jadi perbincangan di Luwu Raya,” sebut Budirani.

Sementara itu, pihak Satgas Covid-19 Palopo yang diwakili oleh Plt Kadinkes Palopo, Taufiq mengatakan kasus jenazah pasien Covid-19 beberapa waktu lalu akibat kurangnya SDM yang standby yang dimiliki Satgas akibat kasus yang masuk hampir bersamaan waktunya serta terjadi pada malam hari, sehingga membuat Satgas kewalahan.

“Kami akui karena kekurangan tenaga, kasus malam itu ada 2 kasus positif, belum lagi kasus masalah lain yang ditangani JA, sementara mobil ambulans PSC 119 JA tetap siaga hanya saja petugasnya yang terbagi-bagi, begitupun dengan pihak rumah sakit, mobilnya standby tapi masih harus menunggu Petugas dari Satgas. Sehingga kami terpaksa meminta bantuan pihak keluarga untuk pemakaman jenazah,” terang Plt Kadis Kesehatan Palopo itu.

Namun Taufiq mengaku berterima kasih atas segala masukan dan kritikan semua pihak, ia berharap hal ini tidak menyurutkan semangat Tim Satgas untuk lebih giat lagi bekerja dan menangani kasus-kasus corona ke depannya.

“Kami berterima kasih atas semuanya (saran/kritikan), tracing keluarga pasien akan terus digiatkan lagi, tidak boleh kendor, dan selama ini memang sudah kami lakukan dengan baik. Kami di Tim Satgas punya SOP (standar operasi prosedural), kita punya tim yang bekerja, semua sudah kami lakukan, jika belum sempurna benar, kami mohon maaf,” ucapnya.

Sedangkan direktur RS Atmedika, dr H. Anton Yahya MKes menanggapi keluhan keluarga pasien Covid saat itu mengatakan, “kami sudah berusaha semaksimal mungkin, kami bertaruh nyawa mengurusi pasien-pasien Covid-19, secara SPOK rumah sakit kami sudah menjalankan sesuai regulasi,” tandasnya.

Sebelum rapat ditutup, para audienspun meninggalkan ruang rapat setelah melampiaskan unek-uneknya terhadap Gugus Tugas Covid-19 dan direktur RS se kota Palopo.

Pimpinan rapat, Drs Baharman Supri MSi yang juga wakil ketua Komisi I mengaku, DPRD sengaja melakukan RDP guna mencari solusi terkait permasalahan yang ada, sekaitan dengan penanganan Covid-19 di kota Palopo dan angka penularannya, yang menurutnya semakin mencemaskan saja.

Ia mempertanyakan dasar dari perubahan status kota Palopo dari zona merah (tinggi) ke zona oranye (sedang) padahal menurutnya, angka kematian di kota ini meningkat signifikan, akhir-akhir ini.

(har/iys)

ADVERTISEMENT