“Saya Sudah Tak Punya Pengaruh, Wajar Tak Jadi Ketua” Kata Arifin Junaidi Saat Sambutan di Musda Golkar Lutra

615
Plt Ketua Golkar Lutra, Arifin Junaidi saat menyampaikan sambutan, di arena Musda Golkar Lutra, Minggu (5/9/2021).
ADVERTISEMENT

KORANSERUYA.COM–Mantan Bupati Luwu Utara (Lutra), Sulsel, Arifin Junaidi mengaku ikhlas dan legowo tidak maju Musda Golkar Lutra karena tidak mendapatkan diskresi dari DPP Partai Golkar. Arjuna, begitu Plt Ketua Golkar Lutra ini akrab disapa, optimistis Partai Golkar Lutra akan akan semakin berjaya dibawah kepemimpinan Bupati Lutra, Indah Putri Indriani.

Menariknya, Arjuna saat menyampaikan sambutan selaku Plt Ketua Golkar Lutra saat pembukaan Musda di Hotel Bukit Indah, Kelurahan Bone Tua, Kecamatan Masamba, Minggu (5/9/2021), mengungkapkan juga bahwa Indah Putri Indriani yang mengantongi diskresi DPP sehingga terpilih aklamasi sangat layak memimpin Golkar Lutra dibandingkan dengan dirinya.

“Saya sangat menyadari, saya sudah tidak punya daya dan pengaruh lagi. Saya tidak punya daya lagi untuk mempengaruhi rakyat, tidak ada lagi wibawa. Sangat
keliru kalau saya ditunjuk ketua. Saya tidak punya apa-apa,” ungkap Arjuna di hadapan Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, Taupan Pawe dan para pengurus Golkar Lutra yang menghadiri pembukaan Musda.

Dalam kesempatan tersebut, Arjuna juga menyinggung soal diskresi DPP Partai Golkar yang hanya diberikan kepada Indah Putri Indriani, sehingga dirinya gagal maju sebagai calon Ketua Golkar Lutra.

ADVERTISEMENT

“Tentunya, sebagai manusia, pastilah ada kekecewaan. Tapi saat hadir di arena Musda ini, begitu melihat wajah Pak Ketua (Taupan Pawe) dan Ibu Indah, semua hilang,” kata Arjuna disambut tepuk tangan peserta Musda.

Diketahui, Musda DPD II Partai Golkar Lutra, sejatinya diikuti dua kandidat ketua, yakni Arifin Junaidi dan Indah Putri Indriani. Namun, dari dua kandidat tersebut, DPP Parti Golkar hanya mengeluarkan diskresi untuk Indah.

Untuk maju Musda Golkar Lutra, baik Arjuna dan Indah sama-sama harus mengantongi diskresi dari DPP. Sebab keduanya belum genap lima tahun berstatus kader partai. Khusus Indah, salah satu aturan internal Partai Golkar menyebutkan setiap kader yang ingin menjadi ketua baik ditingkat DPD I ataupun DPD II minimal telah berstatus kader partai 5 tahun.

Indah sendiri belum genap 5 tahun jadi kader Golkar. Tahun 2019 lalu, Indah masih tercatat sebagai kader Partai Gerindra. Bahkan, dia pernah menjabat
Ketua DPC Partai Gerindra Luwu Utara. DPP memberinya restu berupa diskresi karena dicalonkan Partai Golkar pada Pilkada lalu dan menang.

Sementara Arjuna, kendati orang lama, dirinya pada 2019 meninggalkan Partai Golkar dan bergabung dengan PAN. Bahkan ia mendapat jabatan majelis penasehat partai dan mendaftarkan dirinya untuk caleg DPR RI di PAN. (byu)

ADVERTISEMENT