Sisi Lain Warga Palopo Tewas Disengat Tawon… Ternyata Bermula dari Ulah Elang Liar

1822
ADVERTISEMENT

PALOPO–Baru pertama kali terjadi di Palopo. Seorang warga bernama Asda (33), warga Kelurahan Kambo, Kecamatan Mungkajang, Palopo, mengembuskan nafas terakhir, Minggu (25/11/2018) siang lalu. Korban diserang gerombolan tawon saat berada di rumahnya. Tawon tersebut berasal dari hutan yang ada di dekat rumah korban.

Siapa Kandidat Pasangan Calon Bupati/Wakil Bupati Luwu Timur 2020-2025 Pilihan Anda ?
1. Irwan Bachry Syam-Andi Muhammad Rio Pattiwiri Hatta (Ibas-Andi Rio)
2. HM Thoriq Husler-Budiman Hakim (MTH Berbudi)
Dibuat Oleh Seruya Poll

Informasi yang dihimpun KORAN SeruYA, bahwa di sekitar hutan Kambo merupakan tempat bersarang tawon.

ADVERTISEMENT

Warga setempat, Gusman, mengungkapkan, tawon menyerang lantaran sarangnya diganggu oleh burung elang liar.

“Mungkin karena merasa terusik, tawon menyerang dan menyengat korban,” kata Gusman, sepupu korban yang dihubungi.

ADVERTISEMENT

Sebenarnya di dalam rumah ada empat orang yakni Musir, Amsar, Janis dan Asda. Hanya saja, saat tawon menyerang, tiga lainnya berhasil keluar dari rumah dan menyelamatkan diri. Nahas bagi Asda. Karena korban adalah penderita tuna netra (buta), ia tak sempat menyelamatkan diri dan pasrah digigit.

(BACA JUGA):  INNALILLAH…Diserang Tawon Warga Palopo Meninggal, 3 Korban Lainnya Dirawat di Rumah Sakit

ADVERTISEMENT
Siapa Kandidat Pasangan Calon Bupati/Wakil Bupati Luwu Utara 2020-2025 Pilihan Anda ?
1. Arsyad Kasmar-Andi Sukma (AKAS)
2. Indah Putri Indriani-Suaib Mansur (IDAMAN)
3. Thahar Rum-Rahmat Laguni (MATAHARI)
Created with Seruya Poll

Kasatreskrim Polres Palopo, AKP Ardy Yusuf mengungkapkan, ada ribuan tawon yang masuk ke rumah korban.

“Tiga lainnya hanya mengalami luka-luka akibat disengat tawon. Sedangkan korban hanya pasrah,” katanya. Serangan tawon ganas itu baru berhenti setelah korban tidak bergerak. Sementara itu, beberapa korban lainnya yang berhasil menyelamatkan diri masih berada di Rumah Sakit At Medika Kota Palopo untuk menjalani perawatan. Mereka dijemput langsung tim medis Pemkot Palopo.

Sementara itu dari berbagai sumber menyebutkan, sengatan tawon lebih berbahaya dibanding ular berbisa. Secara klinis orang yang disengat tawon akan menunjukkan gejala-gejala yang sifatnya bisa lokal atau sistemik.

Sekali venom (racun) dikeluarkan dan tersalurkan pada tubuh korban maka segera timbul reaksi berupa nyeri yang hebat dan diikuti dengan peradangan di tempat sengatan, bisa berupa bengkak kemerahan, gatal dan rasa seperti terbakar.

Sengatan yang banyak, misalnya disengat oleh beberapa ekor tawon juga bisa menyebabkan gejala muntah, diare, pingsan, sesak nafas, gangguan perdarahan dan kematian.

(BACA JUGA):  KAMPANYE CERDAS BPOM PALOPO: Boleh Cantik Asal Jangan Instan2018/

Sebuah analisis terhadap data mengenai gigitan dan sengatan makhluk beracun di Australia selama 13 tahun terakhir yang dilakukan oleh University of Melbourne, mengungkapkan bahwa lebah dan tawon menjadi penyebab ketiga orang dirawat di rumah sakit.

Dalam penelitian dilakukan oleh ilmuwan Australia ditemukan bahwa racun dari tawon dan lebah menimbulkan ancaman lebih besar bagi kesehatan masyarakat. Bukan dari dari ubur-ubur, laba-laba atau ular. Gigitan laba-laba adalah penyebab terbanyak kedua orang dirawat di rumah sakit atau sebanyak 30 persen, sedangkan gigitan ular berada di posisi ketiga dengan angka 15 persen.

Secara keseluruhan, 42.000 orang dibawa ke rumah sakit akibat gigitan atau sengata beracun selama lebih dari satu dekade belakangan ini, dan 64 orang diantaranya meninggal dunia, sedangkan 34 lainnya mengalami reaksi alegi terhadap gigitan serangga yang mengakibatkan anaphylactic shock (reaksi alergi berat yang terjadi tiba-tiba dan dapat menyebabkan kematian).

Ronelle Welton, ahli kesehatan masyarakat di Unit Racun Australia di University of Melbourne, mengatakan, ia terkejut bahwa ada sangat banyak kematian dan orang dirawat di rumah sakit di daerah pantai padat penduduk di Australia.

“Lebih separuh kematian terjadi di rumah, dan hampir dua-pertiga (64 persen) terjadi, bukan di daerah terpencil yang mungkin kami duga, tapi malah, di kota besar dan di daerah pedalaman-regional tempat perawatan kesehatan tersedia dengan cepat,” kata Welton.

(BACA JUGA):  Mahasiswa Asal Lutra Masuk Predikat 7 Lomba Nasional Indonesian Energy Inovation Challange 2018

Welton mengatakan ia percaya alasan, gigitan serangga sangat mematikan ialah orang mungkin lalai untuk meminta perhatian medis dan anaphylaxis dapat menewaskan manusia dengan cepat. “Barangkali karena lebah sangat tidak berbahaya kebanyakan orang tidak benar-benat takut terhadap hewan itu seperti mereka takut pada ular,” kata Welton. (liq/adn/berbagai sumber)

ADVERTISEMENT