Widy Astuti Nur Husain, Dokter Teladan Tingkat Nasional 2018 Asal Luwu Utara

6673
Widy bersama anak-anak di Kecamatan Rampi saat bertugas
Widy bersama anak-anak di Kecamatan Rampi saat bertugas

MASAMBA — Tugas di Kecamatan Rampi yang merupakan daerah terpencil di Luwu Raya, membawa berkah bagi dr Widy Astuti Nur Husain. Setelah melalui seleksi yang ketat, dr Widy begitu dia akrab disapa terpilih sebagai salah satu Dokter Teladan Tingkat Nasional 2018 pada Agustus lalu. Di seluruh Indonesia ada 136 tenaga kesehatan yang meraih penghargaan yang sama. Dari Sulsel, Widy hanya satu-satunya dokter yang meraih penghargaan itu.

Selain dikenal sebagai dokter yang gigih dan tak kenal menyerah di daerah terpencil, Widy dianggap mampu melakukan inovasi di tempat tugasnya. Inovasinya itu adalah pemeriksaan survei tinja kepada masyarakat Rampi. Menurutnya, inovasi tersebut merupakan salah satu antisipasi dan pencegahan dini munculnya penyakit bengkak-bengkak dan berak darah di masyarakat Rampi.

Sebab, penyakit tersebut banyak dialami oleh warga di Bada’, Sulawesi Tengah. Kendati Bada’ masuk wilayah Sulawesi Tengah, namun daerah itu bertetangga dengan Rampi. Kondisi geografisnya pun hampir sama. Banyak warga Rampi yang memanfaatkan akses jalan ke Bada’ untuk ke Masamba, Luwu Utara. Warga Rampi gampang terpapar penyakit itu karena kerap bersosialisasi langsung dengan warga Bada’.

” Saya tidak bisa membayangkan jika penyakit ini masuk ke wilayah Rampi. Sehingga saya melakukan pemeriksaan. Jadi, kewaspadaan akan penyakit seperti itu, sebenarnya bukan hanya Rampi, tapi juga Luwu Utara bahkan Sulsel bisa tertular,” katanya. Widy mulai bertugas di Puskesmas Rampi sejak 2016 lalu. Sudah bukan rahasia umum lagi, banyak diantara Pegawai di Luwu Utara yang menolak ketika ditugaskan di Kecamatan Rampi. Selain karena jarak, akses jalan menuju ke Rampi sangat sulit.

Untuk perjalanan darat dibutuhkan waktu selama beberapa hari dengan kendaraan roda dua. Perjalanan udara dengan pesawat melalui Bandara Andi Djemma Masamba. ” Saya menerima dengan suka cita saja saat ditugaskan di Rampi. Niat saya untuk mengabdi dan membantu masyarakat yang membutuhkan di sana. Orang tua juga mensupport saya tugas di Rampi,” katanya.

Selama bertugas di Rampi, ungkapnya tak ada masalah berati yang ditemukan.Segala kesulitan yang ditemui dijalani dengan enjoy. Tak jarang, Widy bersama tenaga kesehatan lainnya harus berjalan jauh untuk membantu warga. Beberapa kali dia juga mengantar warga Rampi yang dirujuk ke RSUD Masamba menggunakan pesawat terbang dengan kondisi cuaca buruk.

Ia memang ditempa untuk tidak cengeng dan mudah menyerah. Apalagi, sejak kecil kerap ikut bersama ayahnya mengabdi di daerah terpencil sebagai camat. Ayahanda dr Widy adalah Nur Husain. Pamong dan senior dan tokoh masyarakat di Luwu Timur. ” Mungkin saya terinspirasi dari ayah saya yang pernah menjadi camat teladan saat bertugas dulu,” katanya. (adn)