Setahun Duka Bumi Lamaranginang, Warga Diminta Berdoa Bersama dari Rumah

42
ADVERTISEMENT

LUTRA – Senin, 13 Juli 2020 malam menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan warga Luwu Utara. Malam itu, sedikitnya enam Kecamatan dilanda banjir bandang. Menurut sebagian warga, banjir tersebut merupakan yang terdahsyat menghantam Bumi Lamaranginang.

Hari ini, tepat setahun lalu puluhan nyawa melayang akibat bencana tersebut. Ratusan rumah warga terendam air bercampur lumpur. Bahkan, di lokasi terparah, banyak warga yang rumahnya sudah rata dengan tanah.

ADVERTISEMENT

Maskur, salah satu korban selamat menuturkan banjir bandang melanda desanya, Radda, Luwu Utara. Dia sempat terseret derasnya arus. Beruntung, Maskur berpegangan dengan batang pohon yang akhirnya menyelamatkan nyawanya.

“Saya masih selamat. Saya terus peluk batang kelapa. Lalu ada batang pohon pisang hanyut, itu jadi pijakan,” katanya saat itu.

“Derasnya air bercampur lumpur menghantam rumah,” sambungnya.

Maskur menjelaskan saat itu suasana begitu mencekam. Warga desa panik dan berusaha menyelamatkan diri dari kepungan air bercampur lumpur.

Bahkan, Maskur menyaksikan banjir menyeret sebuah mobil yang masih ada penumpang di dalamnya. “Di jalan itu ada mobil masih ada orangnya dihantam banjir,” imbuhnya.

Pemkab Lutra mengajak seluruh masyarakat Bumi Lamaranginang melakukan doa bersama dari rumah dan kantor tepat pukul 09.30 Wita.

“Tragedi itu sangat membekas di ingatan warga Lutra. Banyak warga jadi korban, tak sedikit pula rumah yang rata dengan tanah. Untuk itu, kami meminta kesedian seluruh masyarakat Luwu Utara untuk berdoa bersama agar mereka yang meninggal dalam peristiwa itu diterima di sisi Tuhan,” ujarnya.

“Doakan pula Luwu Utara, agar terhindar dari segala bencana dan segera pulih seperti sedia kala. Luwu Utara Bangkit !,” sambungnya.

BPBD Kabupaten Luwu Utara menyebutkan, salah satu pemicu banjir adalah hujan dengan intensitas tinggi selama dua hari terakhir. Debit air hujan mengakibatkan Sungai Masamba, Sungai Rongkong dan Sungai Radda meluap, sehingga terjadi banjir bandang.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Junal Celebes, Mustam Arif yang juga aktivis lingkungan mengatakan dari perspektif lingkungan banjir bandang di Masamba Kabupaten Luwu Utara adalah bencana ekologis akibat degradasi lingkungan.

Mustam mengatakan bencana banjir bandang di Masamba ini terjadi hampir sama di semua wilayah di Indonesia yang rentan, akibat perencanaan pembangunan tidak serius memperhitungkan daya dukung lingkungan.

Curah hujan yang tinggi itu adalah pemicu, lanjut dia, risiko alamiah dari perubahan iklim lantaran pemanasan global juga karena kerusakan lingkungan. Curah hujan tinggi yang merupakan dampak anomali iklim ini memicu terjadi banjir bandang, karena hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Rongkong dengan berapa sungai di sub DAS Luwu Utara, terutama di Masamba dan sekitarnya tak mampu lagi menahan beban hidrologis di tanah yang tutupan hutannya yang sudah kritis.

Secara topografis, Luwu Utara, Luwu Timur, sebagian Toraja sampai ke wilayah Sulawesi Tengah merupakan perpaduan geologis wilayah dataran tinggi Verbeek dengan dataran-dataran rendah yang memiliki tanah subur. Karakteristik tanah subur adalah tanah yang umumnya gembur mestinya tetap direkat oleh tumbuhan atau pepohonan.

Tetapi ketika hutan dibuka untuk perkebunan/pertanian dan industri ekstraktif berupa tambang, akan merusak daya dukung ekologis kawasan tanah-tanah yang subur itu. Menurut pimpinan lembaga yang fokus pada isu lingkungan ini, kondisi ini menciptakan kerentanan tinggi di wilayah-wilayah dataran rendah seperti di Masamba.

Masamba itu boleh dikata dikepung sungai. Bagian selatan ada Sungai Rongkong yang besar, sementara tengah Kota Masamba sendiri berada di dataran rendah, serta kecamatan sekitarnya yang juga dilintasi beberapa sungai. Kondisi ini membuat Masamba dan sekitarnya tergolong berada di areal yang rentan bencana banjir.

Secara topografis, Masamba dan sekitarnya berada di titik terendah yang akan menjadi limpahan air ketika curah hujan melebihi batas ideal. Saat wilayah ketinggian tidak mampu lagi menyimpan dan menahan air karena rusaknya daya dukung lingkungan, otomatis wilayah rendah akan menerima risiko.Itulah yang memicu banjir bandang di Lutra.

Di wilayah hulu DAS Rongkong tampak kritis ketika dipantau dari satelit, akibat pembukaan lahan perkebunan dan pertanian. Ketika ini terus berlangsung, ke depan ancaman bencana seperti ini, tidak tertutup kemungkinan akan kembali terjadi.

Kejadian di Masamba ini merupakan pembelajaran bagi wilayah-wilayah lain, khususnya di gugusan dataran tinggi dan dataran rendah di Luwu Raya bagian utara. Karena berada di satu wilayah, mempunyai karakterisik alam yang sama, dan potensi bencana yang sama.

“Kita masih ingat di tahun 2017 bencana longsor di Maliwowo, Kecamatan Angkona Luwu Timur. Perisitiwanya sama, curah hujan tinggi lalu tanah rentan di bukit tidak mampu menahan beban lalu terjadi longsor menimpa rumah warga satu dusun sepanjang jalan trans Sulawesi,” kata Mustam.

Karena itu, lanjut dia, setelah bencana Masamba, Pemerintah Luwu Utara maupun Luwu Timur dan wilayah sekitar, mestinya kembali melihat tata ruang wilayah untuk memulihkan degradasi lingkungan dan kembali merevisi perencanaan pembangunan yang mengakomodasi perbaikan dan keberlanjutan daya dukung lingkungan dan mitigasi bencana.

Masyarakat yang berada di wilayah rentan, mestinya mempunyai daya adaptasi secara sosilogis dan rencana kedaruratan (kontigensi) agar bisa meminimalisir dampak ketika ada bencana. “Ini harus serius, karena salah satu kekurangan kita sering menyadari ketika ada bencana. Tetapi kemudian akan mengabaikan lagi, setelah bencana berlalu,” tandasnya.

Pemerintah Daerah (Pemda) Luwu Utara terus menggenjot pembangunan hunian tetap (huntap) bagi penyintas banjir bandang. Berdasarkan data awal, rumah rusak berat akibat banjir bandang sebanyak 1.019 unit, tetapi setelah dilakukan verifikasi ulang oleh Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP), dibantu tim dari BPBD dan DPRKP2, kemudian jumlah 1.019 unit ini menyusut menjadi 1.005 unit.

Kepala Pelaksana BPBD Luwu Utara, Muslim Muhtar, mengutarakan bahwa setelah dilakukan verifikasi oleh APIP, terjadi penyusutan sebanyak 14 unit, sehingga total untuk pembangunan huntap di Luwu Utara sebanyak 1.005 unit. “Terjadi penyusutan karena ada yang dobel dan ada pula yang tidak memiliki lokasi atau tidak diketahui di mana tempatnya,” jelas Muslim, melalui ponselnya, Selasa (8/6/2021) lalu, di Masamba.

Muslim menyebutkan, 1.005 unit huntap tersebut sudah termasuk 50 unit bantuan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pada 2020 lalu. Selebihnya, 955 unit, akan dibangun tahun ini. “Sesuai harapan ibu Bupati, pengerjaan pembangunan huntap selesai di akhir tahun,” sebut Muslim. Rincian 1.005 unit huntap ini, sebut dia, adalah; 897 unit dari BNPB Pusat, 72 unit dari Kementerian PUPR, dan 50 unit dari Pemprov Sulsel.

Sebelumnya, juga telah dilakukan Rapat Koordinasi Pembangunan Huntap yang dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Armiadi, di Ruang Rapat Sekda, dan dihadiri beberapa pihak terkait. Rapat tersebut dilakukan sebagai bukti keseriusan Pemda Luwu Utara untut mempercepat pembangunan huntap bagi korban bencana banjir bandang. Armiadi berharap, semua lokasi yang sudah melalui tahapan verifikasi, harus aman dari potensi bencana.

“Terkait jumlah huntap harus dicocokkan dengan luas lahan kita. Lokasi tanah juga harus jelas. Apakah sudah jauh dari bencana. Nah, ini harus diperjelas juga, karena kita mau melakukan yang terbaik untuk masyarakat kita,” kata Armiadi. Ia pun berharap agar pelaksanaan pembangunan huntap bisa berjalan lancar sesuai harapan bersama. “Kita harap apa yang kita lakukan ini bisa berjalan sesuai rencana. Lebih cepat kita selesaikan, maka lebih cepat pula dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kita,” imbuhnya.

Sekadar diketahui, huntap dibangun melalui sistem kontraktual dengan pihak penyedia yang melibatkan kelompok masyarakat sebagai tenaga kerja dan komponen pendukung lainnya. Huntap yang dibangun menggunakan konsep rumah tahan gempa yang dibuktikan dengan hasil uji labolatorium dari Kementerian PUPR. (liq)

ADVERTISEMENT