Virus Corona Diprediksi Lakukan “Rebound” dan “Serangan Balik” Pasca Libur Panjang, RS Diminta Siagakan Kamar Khusus

547
ADVERTISEMENT

JAKARTA–Agaknya, momen libur panjang yang terjadi di bulan Desember 2020 ini harus menjadi perhatian serius dari seluruh masyarakat.

Pasalnya, di masa pandemi Covid-19 ini, momen libur panjang adalah salah satu pintu masuk yang kerap membawa dampak penularan Covid-19 ke arah yang lebih masif (besar).

ADVERTISEMENT

Hal ini rupanya sudah dikalkulasi dan diprediksi oleh pakar Epidemiolog hingga pemerintah.

Ahli epidemiologi Indonesia dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman memprediksi akan terjadi lonjakan kasus positif Covid-19 di Indonesia.

ADVERTISEMENT

Hal itu, kata dia, terlihat dari berbagai indikator terkait Covid-19 di Indonesia yang kian mengalami kenaikan. “Jadi artinya ini ada sinyal serius seperti indikator angka kematian, angka hunian rumah sakit, kasus harian.”

“Tes positivity rate ini semua meningkat,” kata Dicky mengutip Kompas, Sabtu 26 Desember 2020.

“Memasuki di tahun 2021 awal ini, akan memasuki masa yang sangat sangat harus kita waspadai. Dan ada potensi ledakan kasus,” sebut Dicky.

Pun demikian, Dicky tidak menyebut secara spesifik penyebab potensi ledakan kasus tersebut. Ia hanya mengatakan, kondisi Indonesia saat ini sudah dalam kondisi kritis.

Oleh karena itu, Dicky menyarankan pemerintah untuk memasifkan program tracing, testing, and treatment (3T) dan masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan.

Protokol kesehatan yang dimaksud adalah memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak (3M). “Masyarakat 3M selain membatasi pergerakan mobilitas, juga interaksi,” ujarnya.

Antisipasi Pemerintah atas potensi ledakan kasus Covid-19

Di sisi lain, Pemerintah meyakini lonjakan kasus Covid-19 setelah masa libur Natal dan Tahun Baru 2021 akan terjadi.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah mengaku telah menyiapkan sejumlah hal.

Mulai dari menambah ketersediaan tempat tidur di rumah sakit hingga jumlah perawat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan akan menambah 100 tempat tidur di RSCM.

Tempat tidur tambahan itu, diadakan di ruang rawat inap dan intensive care unit (ICU).

Selain itu, Budi mengarahkan agar perawat di RSCM ditambah. “Kebetulan tempatnya ada, tinggal kami tambah jumlah bed dan ICU. Ada potensinya bisa sampai 100 bed tambahan,” kata Budi, dalam konferensi pers daring yang digelar Jumat (25/12/2020).

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono juga ikut merespons potensi ledakan kasus Covid-19 di 2021.

Ia mengatakan, pemerintah berupaya agar lonjakan kasus positif Covid-19 tidak diiringi dengan kenaikan kasus kematian. “Mungkin lonjakan kasus (Covid-19) tidak bisa dihindari, pasti akan ada,” ujarnya.

Karena itu, Dante mengatakan, pemerintah terus memantau ketersediaan obat-obatan, fasilitas kesehatan, dan tenaga medis di rumah sakit.

“Agar tidak makin meningkat, maka kami melakukan kunjungan yang efektif hari ini.”

“Sehingga semua ketersediaan obat-obatan, fasilitas kesehatan, dan tenaga medis tercukupi,” ujarnya.

Data terkini kasus Covid-19 di Indonesia

Diketahui, sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan pada 2 Maret 2020 hingga Jumat kemarin, total ada 700.097 kasus Covid-19 di Indonesia.

Dari total kasus, sebanyak 570.304 orang dinyatakan telah sembuh dan 20.847 pasien Covid-19 meninggal dunia.

Kemudian, jumlah kasus aktif Covid-19 di Indonesia mencapai 108.946 kasus.

Angka itu setara dengan 15,6 persen dari total kasus konfirmasi positif Covid-19.

Kasus aktif adalah pasien yang dinyatakan positif Covid-19 dan sedang dirawat atau isolasi mandiri.

Sementara itu, ada 67.464 kasus suspek terkait Covid-19 di Indonesia.

Adapun bulan Desember ini beberapa momen libur panjang terjadi, mulai dari tanggal 24 hingga 27 Desember 2020 yang merupakan libur Natal.

Sementara itu, pada 28-30 Desember 2020 tidak ada libur, sehingga masyarakat pun diharuskan tetap bekerja seperti biasa.

Kemudian, libur pengganti Idul Fitri ditetapkan pada tanggal 31 Desember 2020.

Untuk itu, libur Tahun Baru ditetapkan tanggal 1 Januari 2021 dan ditambah tanggal 2-3 Januari 2021 yang merupakan libur akhir pekan karena tepat jatuh pada Sabtu-Minggu.

Melihat banyaknya masa liburan panjang ini, pemerintah pun mengimbau agar masyarakat tidak melakukan perjalanan dan membuat kegiatan yang menimbulkan kerumunan.

17 Rekomendasi UI Hadapi Potensi Lonjakan Kasus Covid-19-19 Akibat Libur Akhir Tahun

Sementara itu, para akademisi Universitas Indonesia (UI) menyampaikan hasil penelitian dan rekomendasi dalam menghadapi potensi lonjakan kasus COVID-19 pada akhir tahun. Daftar rekomendasi kebijakan tersebut disampaikan pada seminar online bertajuk “Liburan Akhir Tahun dan Pandemi COVID-19”, pada Senin (21/12).

Penelitian dan rekomendasi tersebut dilakukan dan disampaikan oleh Tim Sinergi Mahadata UI Tanggap COVID-19 yang terdiri atas anggota lintas disiplin ilmu, yang diketuai Prof. Dr.dr. Budi Wiweko, Sp.OG(K)., MPH, Vice Director IMERI FKUI, dilansir Warta Kota.

Pesan utama yang disampaikan oleh Tim Sinergi Mahadata UI Tanggap COVID-19 adalah agar masyarakat bersama-sama menjaga supaya tidak terjadi peningkatan kasus pada liburan akhir tahun.

Menurut dr. Damar Susilaradeya, MRes, Ph.D (Wakil Ketua Tim Sinergi Mahadata UI dan Peneliti Klaster Medical Technology FKUI), “Berdasarkan hasil analisis data mobilitas kerja sama UI dengan Facebook Data for Good, selalu terdapat peningkatan mobilitas pada saat liburan yang kemudian diikuti dengan lonjakan kasus COVID-19.

Maka, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melindungi diri dan sekitar kita, walaupun mungkin bosan, untuk menjaga keselamatan bersama dengan menghindari kerumunan serta mematuhi protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya.”

Adapun rekomendasi yang diberikan dari Tim Sinergi Mahadata UI Tanggap COVID-19 adalah:

1. Mengurangi cuti bersama untuk mengurangi pergerakan penduduk antar kota/provinsi

2. Meningkatkan tes, pelacakan dan isolasi kasus COVID-19

3. Membuat dan mengevaluasi kebijakan yang membatasi mobilitas masyarakat untuk mengurangi laju peningkatan kasus

4. Perlu perhatian khusus untuk mengurangi laju peningkatan kasus di akhir tahun ini mengingat kapasitas rumah sakit – yang mencakup tidak hanya tempat tidur, alat kesehatan, atau obat, tetapi juga tenaga kesehatan – yang terbatas

5. Memberikan pesan edukasi:

a. Tidak keluar rumah kecuali untuk kegiatan yang sangat penting (misal harus bekerja untuk memperoleh penghasilan).

b. Jika harus keluar rumah, selalu menaati protokol kesehatan dengan konsisten dan benar

6. Melakukan pengawasan pelaksanaan protokol kesehatan di tempat umum

7. Perlu komunikasi publik yg intensif dengan menggunakan semua media komunikasi dan pelibatan masyarakat

8. Pemahaman masyarakat tentang COVID-19 masih banyak yang salah. Salah satu contohnya adalah masyarakat belum paham bahwa risiko penularan COVID-19 lebih tinggi di ruang tertutup dari pada di ruang terbuka.

9. Masyarakat sosiekonomi rendah memerlukan perhatian ekstra untuk diberikan edukasi mengenai bahaya COVID-19

10. Saat ini, memakai masker, menjaga jarak dengan orang lain, dan sebisa mungkin tinggal di rumah merupakan pilihan moral: cara terbaik untuk kita mencegah menyakiti diri sendiri dan orang lain. Kurangi risiko tertular COVID-19

11. Masalah kesehatan jiwa dapat memengaruhi kepatuhan seseorang terhadap protokol kesehatan. Kita perlu belajar mengelola rasa bosan dan kesepian, agar dapat merasa nyaman dengan apa yang ada di sekeliling kita saat ini, sehingga mencegah timbulnya ansietas dan depresi

12. Perlu strategi untuk meningkatkan kepercayaan terhadap masyarakat terhadap nakes dan pemerintah

13. Memilih dengan saksama tokoh otoritas selain pemerintah dan nakes sebagai penyampai pesan sebab bisa menjadi boomerang. Pesan akan lebih baik jika datang dari asosiasi profesi nakes dan instansi pemerintah

14. Terlepas dari dampak resesi dari pandemi, proporsi masyarakat yang hendak berlibur akhir tahun tidak sedikit. Tentu saja hal ini berpotensi meningkatkan transmisi dan untuk itu diperlukan mitigasi yang matang

15. Dari temuan lapangan, masyarakat terkonfirmasi mengurangi pola konsumsinya, terutama untuk barang-barang sekunder dan tersier. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah terutama insentif untuk sektor retail non makanan agar terbantu di saat pandemi

16. Kebijakan regulasi masih menjadi hal strategis (utama) agar efektivitas program 3M dapat dilaksanakan dengan baik. Pengaturan yang rigid mengenai hal ini, dilekati dengan sanksi menjadi dorongan yang memaksa masyarakat untuk patuh terhadap norma yang sifatnya paksaan (imperatif) ketimbang pilihan (fakultatif)

17. Norma Paksaan (Imperatif) dilekati dengan Sanksi yang tegas terhadap pelanggaran, diharapkan dapat mendisiplinkan masyarakat untuk melaksanakan 3M.

Kegiatan penelitian ini berjudul “Evaluasi Pergerakan, Perilaku, dan Penerapan Aturan dalam Pelaksanaan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) berbasis Maha Data Geospasial: Peta Skoring PSBB Indonesia” ini didukung oleh dana Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Tahap 2 dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Wakil Rektor UI Bidang Riset dan Inovasi, drg. Nurtami., Ph.D., Sp, OF(K) menyampaikan bahwa policy brief UI merupakan bentuk komitmen UI sebagai guru bangsa untuk terus menjadi mitra pemerintah dalam upaya menanggulangi pandemi COVID-19 dan memulihkan perekonomian nasional.

Tim Sinergi Mahadata UI sebelumnya telah melakukan dua penelitian, pertama pengembangan peta mobilitas, dan kedua kuesioner nasional perilaku kesehatan dan dampak sosial COVID-19.

Tim juga telah melakukan penyebaran kuesioner nasional terkait perilaku kesehatan dan dampak sosial COVID-19 didapatkan bagaimana perilaku 3M masyarakat, pengetahuan dan kepercayaan mengenai COVID-19, persepsi risiko, kesehatan jiwa, kepercayaan terhadap sumber pemberi informasi, perubahan pendapatan, pola konsumsi, dan penerapan hukum.

(iys)

ADVERTISEMENT