Belopa dan Perkembangan Luwu di Mata “Perantau” Putra Daerah yang Sukses Jadi Birokrat di Bintuni Papua Barat

290
ADVERTISEMENT

LUWU–Kota Belopa sebagai ibukota Kabupaten Luwu kini genap berusia 15 tahun. Usia yang masih muda dan butuh perhatian serius tidak saja pemerintah tapi juga semua stakeholder.

Buah dari reformasi di Indonesia tahun 1999 menghasilkan pemekaran wilayah, salah satunya Luwu yang harus terpecah menjadi 4 bagian.

ADVERTISEMENT

Kabupaten induk yakni kabupaten Luwu sendiri kemudian melahirkan kota Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur.

Belopa sebagai ibukota kabupaten Luwu, banyak mendapat perhatian terlebih setelah Basmin Mattayang untuk kali keduanya “comeback” dan menjadi Bupati berpasangan dengan Syukur Bijak usai memenangkan Pilkada 2018 silam.

ADVERTISEMENT

Kenangan manis soal Belopa tak kan pernah hilang dibenak Saifuddin Kasim, tokoh asal Luwu yang kini menjabat Kepala Bidang Perhubungan laut dan udara di Dishub Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat.

Putra daerah Belopa itu mengaku angkat topi dengan pembangunan Kab. Luwu saat ini yang sudah semakin pesat.

“Saya ucapkan selamat Hari Jadi Kota Belopa ke 15, saya apresiasi perkembangan kemajuan Luwu yang menurut saya sudah cukup baik, cukup pesat dan maju. Selamat untuk pak bupati dan jajarannya,” kata Saifuddin.

BACA JUGA: Saifuddin Kasim Silaturahmi dengan Awak Media, Ternyata Pejabat Papua Barat Asli Belopa yang Visioner 

Sebagai orang “Perhubungan”, Saifuddin yang sempat mengeyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah di Desa Bolong Walmas itu mengaku masih banyak yang perlu dibenahi agar koneksi antardesa dan antarkecamatan di Luwu semakin baik.

“Saya tidak bilang kurang bagus, tetapi masih perlu memang pembenahan di sektor Perhubungan utamanya perhubungan darat, sungai dan laut. Karena bidang saya memang di Perhubungan, tentu saya fokus mengamati itu.”

“Menurut saya jangan ada sekat-sekat, semua harus disamaratakan pembangunannya, semua wilayah di Luwu punya potensi ekonomi yang bagus, dengan perbaikan sarana prasarana Perhubungan maka masyakarat Luwu akan semakin sejahtera,” sebutnya.

Saifuddin yang mengaku saban ada waktu setiap tahun, ia selalu jalan-jalan ke kampung halamannya itu -menilai selain perhubungan darat, perhubungan laut juga harusnya jadi perhatian serius.

Ia berpandangan, jika kapasitas Pelabuhan Ulo-ulo maupun Taddette harus bisa lebih ditingkatkan lagi, sehingga mampu menjadi Pelabuhan kapal tradisional maupun modern yang menopang sumber PAD Luwu ke depan.

“Peningkatan kapasitas pelabuhan menjadi perhatian saya juga. Kita di Luwu punya pelabuhan tapi sayangnya kurang optimal. Harusnya komunikasi terus dibangun dengan Provinsi dan Pusat. Daerah jangan pasrah. Pak Basmin sendiri kalo tidak salah yang punya ide pembangunan dermaga pelabuhan tersebut. Koneksitivitas antara Luwu dan Kolaka atau Kolaka Utara harusnya dipercepat,” katanya.

“Kekurangan kita jika itu sudah menjadi “lahan” Pusat atau Provinsi soal kebijakan pelabuhan, maka kita hanya bisa pasrah. Kita tidak bisa “melawan” jika misalnya Siwa di Wajo sudah diplot sebagai pelabuhan penyeberangan menuju Kolaka Sulawesi Tenggara. Akhirnya kita tinggal diam saja jadi penonton, seharusnya ini yang tak boleh, daerah harus memikirkan ini, masak kita membawakan daerah lain PAD, sementara kita bisa punya PAD sendiri dari situ,” pungkas Saifuddin yang kini tengah membangun wira usaha mandiri di Larompong dan Suli Barat bagi perkembangan ternak ayam yang sedang ia rintis dengan bekerjasama dengan masyarakat sekitar, membina peternak dengan target Luwu kelak akan menjadi “Lumbung Pangan: Daging Ayam dan Telur”.

Saksikan video wawancaranya DISINI

(iys)  

 

ADVERTISEMENT