Direktur MIND Harap Sistem Zonasi Dibarengi Pemerataan Pendidikan

305
Direktur Macca Indonesia Foundation (MIND), Haeril Al Fajri.
ADVERTISEMENT

PALOPO — Diberlakukannya Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 sebagai acuan PPDB menuai berbagai respon publik. Tidak sedikit yang menolak aturan tersebut karena dianggap membatasi siswa untuk menempuh pendidikan disekolah sekolah tertentu.

Siapa Kandidat Pasangan Calon Bupati/Wakil Bupati Luwu Timur 2020-2025 Pilihan Anda ?
1. Irwan Bachry Syam-Andi Muhammad Rio Pattiwiri Hatta (Ibas-Andi Rio)
2. HM Thoriq Husler-Budiman Hakim (MTH Berbudi)
Dibuat Oleh Seruya Poll

Melekatnya predikat sekolah unggulan dan sekolah favorit menjadi salah satu pemicu banyak orang tua siswa menginginkan anaknya bersekolah disekolah tertentu walau pun jarang tinggalnya lebih jauh.

ADVERTISEMENT

Dengan diberlakukannya sistem zonasi sekolah diwajibkan menerima peserta didik dengan zona terdekat dari sekolah, dalam PPDB memiliki porsi lebih besar yakni 90% dari total jumlah peserta didik yang diterima.

Polemik sistem zonasi ini ikut ditanggapi Direktur Macca Indonesia Foundation (MIND), Haeril Al Fajri. Haeril Al Fajri berpendapat bahwa yang lebih penting dari sekadar aturan zonasi dalam PPDB adalah pemerintah harus menghadirkan pemerataan kualitas pendidikan.

ADVERTISEMENT

“Seharusnya pemerintah terlebih dahulu memberikan pemerataan kualitas pendidikan, infrastruktur sekolah dan kualitas guru adalah dua hal utama yang mesti terlebih dahulu dibenahi,” tutur Trainer Nasional asal Tana Luwu tersebut.

Haeril Al Fajri menganggap tidak ada orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di tempat yang minim fasilitas dan kualitas, apa lagi di era serba digital sekolah-sekolah harus beradaptasi dengan kecepatan teknologi.

ADVERTISEMENT
Siapa Kandidat Pasangan Calon Bupati/Wakil Bupati Luwu Utara 2020-2025 Pilihan Anda ?
1. Arsyad Kasmar-Andi Sukma (AKAS)
2. Indah Putri Indriani-Suaib Mansur (IDAMAN)
3. Thahar Rum-Rahmat Laguni (MATAHARI)
Created with Seruya Poll

“Semua orang tua ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya, jadi sebaiknya penerapan sistem zonasi ini diawali dengan pemerataan infrastruktur sekolah,” sebutnya.

“Saya contohkan, semua sekolah harus memiliki jaringan internet yang cepat, laboratorium standar, perpustakaan dengan jumlah judul buku yang merata, sarana olahraga dan seni. Dan yang paling penting adalah distribusi guru yang merata. Jangan di sekolah tertentu guru-guru lulusan S2 dan PNS dikumpul sedangkan di sekolah lain lebih banyak honorer,” sambung Haeril. (asm)

ADVERTISEMENT