Pidato Hari Guru Mendikbud Makariem Keren, Ungkap Guru Belum Merdeka

352
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

JAKARTA–Naskah pidato dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, mendadak viral di jejaring media sosial. Pidato tersebut merupakan amanat dan pesan dari Mendikbud Nadiem Makarim untuk peringatan Hari Guru Nasional, yang akan diperingati pada Senin (25/11/2019).

Teks pidato Nadiem sebanyak 2 halaman itu rencananya akan dibacakan saat upacara peringatan Hari Guru Nasional 2019. Namun, sejak diunggah di laman resmi Kemendikbud, pidato itu menyedot perhatian publik.

Apa isi pidato Nadiem hingga memunculkan berbagai respons? Pada kalimat awal pidatonya, Nadiem mengucapkan permohonan maaf karena pidato yang akan ia sampaikan sedikit berbeda dengan para pendahulunya. “Bapak dan Ibu Guru yang saya hormati, biasanya tradisi Hari Guru dipenuhi oleh kata-kata inspiratif dan retorik,” demikian Nadiem mengawali pidatonya.

“Mohon maaf, tetapi hari ini pidato saya akan sedikit berbeda. Saya ingin berbicara apa adanya, dengan hati yang tulus, kepada semua guru di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke,” tulis Nadiem.

Dalam pidato tersebut, Nadiem berjanji tak akan memberi janji kosong kepada ratusan guru. Ia juga menyampaikan rasa simpatinya untuk para guru di Indonesia karena tugas mulia yang mereka emban juga diikuti oleh aturan-aturan yang justru menyulitkan tugas mereka.

Selain itu, Nadiem memandang tugas administratif yang dibebankan kepada para guru menghambat mereka untuk membantu para murid yang mengalami ketertinggalan di kelas. Kurikulum yang terlalu padat dan kurangnya kepercayaan untuk berinovasi, dinilai Nadiem juga menghambat para guru untuk berkarya demi kesuksesan anak didiknya.

Ia berjanji tidak akan memberi janji-janji kosong kepada seluruh guru di Indonesia, serta akan tetap berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia. Ia juga meminta para guru untuk melakukan perubahan kecil di kelas tanpa menunggu perintah.

“Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak,” tutup Nadiem sebelum memberikan ucapan Selama Hari Guru dalam pidatonya.

Pidato Hari Guru Nasional tersebut dinilai angin segar bagi dunia pendidikan di Tanah Air. Nadiem pun membuka alasan kenapa menyampaikan pidato yang ditulisnya sendiri sebanyak 2 halaman itu. Nadiem mengatakan, sebagai generasi muda, ia lebih suka dengan yang apa adanya untuk disampaikan. “Saya lebih suka diberikan kejujuran tentang kenyataan,” kata Nadiem di acara bertema ‘Muda Berkuasa’ di salah satu stasiun televisi nasional, Sabtu (23/11) malam lalu.

Nadiem mengaku mengubah sambutan yang menurutnya sangat formal dan panjang dan menuliskan isi hatinya. Meski demikian, Nadiem memastikan jika substansi dari sambutan hari guru itu tetap sama. “Substansinya masih. Saya ganti dan tulis sendiri,” pungkasnya.

Menurut Nadiem, guru banyak yang terganggu dengan birokrasi dan regulasi sehingga tugas pokoknya sebagai pengajar tidak bisa berkembang. “Betapa ribetnya birokrasi, sekat-sekat regulasi seolah dimana tugas pokok guru terganggu sehingga tidak bisa melakukan pembelajaran,” katanya.

Dalam pidato Nadiem terdapat kutipan “Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi”. Menurut Nadiem, makna kalimat tersebut, bahwa guru, mereka itu tahu solusi untuk muridnya, tapi tidak diberi kepercayaan berinovasi.

Ia berharap ke depannya guru diberi kesempatan berinovasi dan siswa jadi menikmati proses belajar. Nadiem juga menyuarakan agar para orangtua turut andil dalam pendidikan putra putri mereka. “Membuat murid merasa oh saya bisa ya, itu esensinya,” pungkas Nadiem.

Namun dalam sesi yang berbeda, Nadiem mengatakan belum bisa memberikan detail kebijakannya untuk dunia pendidikan dan guru di Indonesia. “Mungkin saya belum siap memberikan detailnya,” tandas Nadiem.

Tokoh pendidikan Henny Supolo menilai, pidato Hari Guru oleh Mendikbud Nadiem Makarim menjadi udara segar pendidikan di Indonesia. Menurut Ketua Yayasan Cahaya Guru itu, dorongan untuk memerdekakan guru menjadi poin yang menarik dan penting dalam pidato Mendikbud Nadiem. “Ajakan memerdekakan diri sangat penting, dan bisa ditangkap sebagai udara segar. Kesadaran bahwa guru yang merdeka itu membuat situasi lingkungan jadi lebih menyenangkan untuk proses pembelajaran,” kata Henny, kemarin.

Henny menjelaskan, dorongan memerdekakan guru itu sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pentingnya kemerdekaan berpikir. Menurutnya, hal itu mesti dimulai dari diri masing-masing guru. “Sejauh saya pernah mengikuti pendidikan, baru sekarang yang sungguh-sungguh ditekankan oleh seorang menteri. Kita mendapatkan perhatian menteri pendidikan soal itu,” kata Henny yang juga Dewan Pertimbangan Federasi Serikat Guru Indonesia itu. (***/cbd)