Potensi Wisata Palopo, Menparekraf Sebut Keindahan Puncak Sarangsarang Buka Lapangan Kerja

61
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno Desa Kambo, Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel). (Foto : Dok. ist)
ADVERTISEMENT

PALOPO — Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno Desa Kambo, Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kedatangan Mas Menteri –sapaan Sandiaga- tersebut pada Rabu (12/10/2022) dalam rangka memberikan penghargaan dan apresiasi atas prestasi pengelola desa wisata tersebut.

Desa wisata tersebut telah melalui uji standar penilaian tim juri yang terdiri dari tujuh kategori. Yakni 1. Daya tarik pengunjung (alam dan buatan, seni dan budaya), 2. Suvenir (kuliner, fesyen, dan kriya), 3. Homestay, 4. Toilet umum, 5. Digital dan kreatif, 6. Cleanliness, Health, Safety, dan Environment Sustainability (CHSE).

ADVERTISEMENT

7. Kelembagaan Desa. Mereka nantinya akan mendapatkan pembinaan dan pendampingan dari mitra strategis Kemenparekraf, yakni Adira Finance Syariah.

Mas Menteri dan rombongan tiba di titik drop off disambut oleh iringan rebana kemudian berjalan menuju lokasi presentasi. Mas Menteri dan rombongan kemudian menyaksikan tarian Pangaru. Sambutan masyarakat dan jajaran pemerintahan setempat begitu hangat. Tampak Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman dan Wali Kota Palopo Judas Amir.

Menparekraf Sandiaga Uno menjelaskan, daya tarik wisata yang bisa dikembangkan Desa Kambo adalah Eco Tourism. Begitu juga Sport Tourism seperti tracking, lari dan mountain bike. “Produk ekonomi kreatif juga sangat unggul, antara tadi saya coba Sarabba Kambo,” jelasnya.

Terkait resesi ekonomi pada 2023, Sandi optimis target kedatangan wisatawan asing bisa terpenuhi. Kalau target wisata dalam negeri sudah melampui target, mencapai 700 juta pergerakan wisata dalam negeri.

Sementara itu, Kadis Budpar Sulsel Muhammad Jufri berharap masuknya Kambo menjadi 50 besar desa wisata, bida membuat Kambo semakin maju dan mendunia.

Walikota Palopo HM Judas Amir mengatakan, Palopo dicanangkan sebagai kota Wisata Kesehatan, karena seluruh fasilitas kesehatan yang ada di Palopo dilengkapi dengan rest area, untuk memberikan kenyamanan kepada pengunjung fasilitas kesehatan yang ada di Palopo. “Ada tanah sekitar 30 hektare yang akan disiapkan untuk lapangan golf,” imbuhnya.

Setelah menyimak presentasi, Mas Menteri dan rombongan kemudian mengunjungi area suvenir yang terdiri dari stand kriya, kuliner, dan fesyen. Di stand kuliner Mas Menteri diajak untuk membuat minuman Sarabba (minuman khas daerah bugis yang terbuat dari jahe, santan dan gula aren). Mas Menteri juga diajak bermain gasing bersama anak anak.

Bicara potensi wisata, desa tersebut memiliki karakter geografis yang khas berupa wilayah pegunungan, lembah, dan dataran yang masih sangat asri. Wilayah Kelurahan Kambo memiliki luas 11,42 km persegi dan dihuni sebanyak 1.080 jiwa. Untuk menuju Desa Wisata Kambo, wisatawan menempuh jalur penerbangan ke Palopo (Bandar Udara) dilanjutkan dengan melalui jalur darat ke desa sekitar 30 menit.

Puncak Sarangsarang merupakan salah satu daya tarik destinasi tersebut. Jungle trekking menuju Puncak Sarangsarang menampilkan keragaman hayati khas Sulawesi. Di sini sepanjang jalan menuju puncak terdapat perkebunan durian, langsat, rambutan, dan cengkeh. Di Puncak Sarangsarang pengunjung bisa berkemah di Bukit Bintang sembari menikmati wilayah Palopo dari ketinggian saat malam hari.

Lalu ada kolam renang Kambo Highland Resort. Destinasi itu memberikan pengalaman berenang di dataran tinggi 531 mdpl. Dikelilingi pegunungan hijau dan lanskap resort yang estetik. Kemudian ada jalur sepeda gunung yang menjadi salah satu atraksi menarik dan banyak dikunjungi oleh wisatawan yang memiliki minat khusus bersepeda gunung. Jalur sepeda ini menghubungkan Kambo dengan Mungkajang.

Bicara seni dan budaya, desa itu memiliki Tarian Pajaga Lili. Itu merupakan salah satu tarian tertua di Tana Luwu sejak era Sawerigading yang berarti milik masyarakat. Tarian ini digunakan untuk penyambutan dan senda gurau para pemuda dan rakyat Luwu pada zaman lampau. Lalu ada festival buah yang menjadi kegiatan tahunan yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan panen buah masyarakat Kambo. (eky)

ADVERTISEMENT