Viral Tanah Kuburan Meninggi 1,5 Meter, Diduga Makam Ulama Tempo Dulu, Begini Kata Ahli Geologi

179
ADVERTISEMENT

PADANG PARIAMAN–Heboh tanah di kuburan menggelembung diduga kuat sebagai makam seorang ulama tempo dulu, letaknya di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Hal ini diungkap Ali Bujang Datuak Rang Kayo Gadang, yang seorang Penghulu/tokoh adat kaum suku panyalai Korong atau kampung Sungai Asam, Nagari Sungai Asam, Kecamatan 2×11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

ADVERTISEMENT

Ia menduga, pusara makam menggelembung tanpa nama yang tercantum di batu nisan yang ada di pandam perkuburan milik kaumnya itu adalah makam ulama tempo dulu.

“Kuat dugaan kami, makam itu adalah makam ulama kita zaman dahulu. Makam ini, sudah sangat lama dan tidak ada data tertulis,” kata Penghulu Kaum Panyalai Sungai Asam Ali Bujang Datuak Rang Kayo Gadang, Kamis 1 April 2021.

ADVERTISEMENT

Meski demikian kata Ali Bujang, itu baru sebatas dugaan. Belum bisa disimpulkan secara pasti siapa pemilik makam itu. Pihaknya saat ini, sudah berkomunikasi dan meminta petunjuk kepada para ulama untuk mencari tahu siapa yang bermakam ditempat itu.

“Kami, masih selidiki. Masih mengumpulkan data-data dan silsilah,” ujar Ali Bujang.

Meski sampai kini masih ramai dikunjungi warga, Ali Bujang Datuak Rang Kayo Gadang dengan tegas melarang siapapun untuk melakukan pungutan dalam bentuk apapun. Siapa saja boleh datang ke makam itu. Yang penting ikut menjaga agar makam itu tidak rusak.

Seperti diketahui, fenomena makam menggembung di area pandam perkuburan milik suku Panyalai di Korong atau kampung Sungai Asam, Padang Pariaman, Sumatera Barat kian mengundang perhatian umum.

Bahkan menurut Wali Korong Sungai Asam Anwar, saat ini kuburan itu bertambah ramai dikunjungi orang. Sejak subuh hari bahkan sudah dipadati warga yang datang dari berbagai tempat.

“Semakin ramai yang datang. Entah dari mana saja. Kalau kita kan tidak pernah mengundang orang untuk datang kesini. Kita juga tidak bisa melarang orang untuk datang. Melarang orang itu sangat susah bagi kami. Sejak subuh sudah ada yang datang melihat kuburan itu,” kata Anwar melansir Vivanews pada Sabtu 27 Maret 2021.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menurunkan tim survei pendahuluan ke area pandam pekuburan di Korong. Tim itu akan bekerja menganalisis kuburan yang menggelembung dengan tiba-tiba di lokasi itu.

Fenomena ini, kata Ali menjadi viral setelah adanya prosesi pemakaman salah seorang kerabat.

Ketika sedang gotong royong membersihkan area pemakaman, barulah terlihat ada gundukan tanah pusara makam tersebut.

“Kalau dulu setelah diketahui ada pertanda makam tersebut meninggi, warga tidak membesar-besarkan kejadian ini. Karena mereka, belum dapat memastikan siapa milik makam tersebut, dan siapa ahli warisnya. Dulu kami sepakati, boleh difoto, tapi jangan diposting.”

“Tapi tiba-tiba, dua pekan terakhir fenomena makam menggelembung ini viral di media sosial,” ujarnya.

Kini, kata Ali, di sekitar area makam tersebut sudah diberi pagar pembatas agar tidak ada oknum yang naik atau menginjak pusara kuburan itu. Kita juga, sepakat untuk tidak melakukan pemungutan uang apapun. Baik pungutan parkir atau kotak amal.

Ahli Geologi Sumatra Barat, Ade Edward, yang telah melakukan survei ke lokasi makam, mengatakan fenomena itu secara ilmiah di antaranya dilihat dari struktur dan jenis pasir tanah pusara tersebut.

Jenis pasir yang menjadi gundukan itu adalah pasir kerikil yang merupakan produk vulkanik Andesit Gunung Tandikat. Tanah itu keluar dan tercipta menjadi gundukan karena disebabkan oleh adanya dorongan material dari dalam perut bumi.

Namun demikian pihaknya belum bisa menyimpulkan material apa yang mendorong pasir itu hingga muncul ke permukaan tanah dan membentuk gundukan. Termasuk juga pasir tersebut yang merupakan lapisan tanah dengan jauh ke dalamannya. Dia mengatakan, perlu ada penelitian lebih lanjut.

“Kalau kita lihat dan pegang, jenis pasir ini pasir kerikil. Pasir ini produk vulkanik Andesit dari Gunung Tandikat. Ini kan baru kesimpulan awal. Apabila survei awal ini layak dilanjutkan untuk survei georadar maka BPPT secara resmi akan membantu melakukan survei bawah permukaan dengan metode georadar. Kami sudah sampaikan tadi ke perangkat kampung dan tokoh masyarakat di sana,” kata ahli geologi tersebut.

(*)

ADVERTISEMENT