OPINI : Sambut Era Metaverse, Kualitas SDM Aparatur Tentukan Masa Depan Pemerintah Pascapandemi

58
Lukman Hamarong, Pranata Humas Diskominfo-SP Luwu Utara.
ADVERTISEMENT

Sambut Era Metaverse, Kualitas SDM Aparatur Tentukan Masa Depan Pemerintah Pascapandemi

(Oleh: Lukman Hamarong)

ADVERTISEMENT

Sulit untuk percaya bahwa dua tahun terakhir energi bangsa ini habis terkuras untuk sekadar bertahan hidup di tengah wabah COVID-19. Pun sulit untuk dipercaya bahwa manusia di muka bumi ini akan selalu baik-baik saja. Kenyataannya, dua tahun lebih manusia terkungkung dalam kepanikan global. Mereka harus bertempur melawan virus yan

Selain kesehatan, sektor ekonomi menjadi sektor paling terdampak. Ratusan ribu manusia telah meregang nyawa akibat virus Corona. Denyut nadi perekonomian juga dipastikan melambat, bahkan tergoncang dan kolaps. Imbasnya, pertumbuhan ekonomi pun ikut melambat secara nasional, sehingga sendi-sendi kehidupan ekonomi menjadi lumpuh. Jika ini tidak tertangani dengan baik, maka cepat atau lambat, masyarakat akan menjadi korban.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, badai COVID-19 pasti akan berlalu. Sehebat apapun itu, yang namanya wabah, sifatnya sementara. Sekali lagi, pandemi ini mempertegas kedudukan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang penuh dengan ketidaksempurnaan dan ketidakberdayaan. Namun, ketidaksempurnaan itu bukan berarti harus menyerah, karena pemerintah juga terus berupaya berbuat untuk segera keluar dari pusaran wabah COVID-19.

Vaksinasi! Sejak ditemukannya vaksinasi COVID-19 untuk memperlambat laju kasus COVID-19, yang kemudian berproduksi dan terus berproduksi di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Cina, Inggris, termasuk Indonesia, perlahan namun pasti, kasus COVID-19 mulai melandai di awal 2023. Kabar baik ini sekaligus mengonfirmasi bahwa kesehatan manusia berangsur-angsur mulai membaik dan kembali normal karena pandemi semakin terkendali.

ADVERTISEMENT

Konfirmasi makin membaiknya kehidupan di awal 2023 ini terpotret dari normalnya kembali kehidupan sosial, seperti aktivitas manusia mulai padat di jalan raya, keramaian fasilitas transportasi publik, serta tempat-tempat keramaian lainnya seperti pusat perbelanjaan, pasar tradisional dan tempat-tempat wisata lainnya, termasuk ratusan ribu suporter sepak bola yang kini diperbolehkan mengisi ratusan ribu tempat duduk yang disediakan.

Manusia kembali menemui kemacetan transportasi di jalanan yang dua tahun terakhir lenyap tak berbekas akibat berbagai pembatasan sosial yang diterapkan pemerintah. Tak ada lagi yang memedomani aturan jaga jarak meski tetap memakai masker. Yang patut disyukuri, pemerintah secara resmi membolehkan salat berjemaah di masjid, tarawih di masjid selama bulan Ramadan, termasuk mudik diperbolehkan. Kehidupan birokrasi pun kembali bergairah.

Pelonggaran-pelonggaran ini mestinya disambut gembira oleh publik, meskipun ada sejumlah syarat yang harus disertakan untuk melindungi kesehatan masyarakat, yaitu vaksin lengkap dan vaksin booster. Herd immunity sepertinya sulit dihindari. Dikutip dari antaranews.com, sebanyak 204.034.974 orang telah mendapatkan suntikan vaksin dosis pertama (86,92%), 174.784.256 orang mendapatkan dosis kedua, serta 68.571.382 orang telah mendapatkan suntikan vaksin penguat atau booster (29,23%).

Dari data tersebut, dapat dipastikan bahwa kurang lebih 80% lebih penduduk Indonesia telah divaksin COVID-19, sehingga kekebalan komunal atau herd immunity yang diharapkan segera terwujud untuk memudahkan pemerintah Indonesia mengubah status pandemi COVID-19 menjadi endemi kian terbuka. Apalagi baru-baru ini Presiden Jokowi telah mencabut status PPKM. Kendati demikian, kewajiban memakai masker masih diberlakukan.

Pertanyaannya kemudian, apa dan bagaimana setelah pandemi? Nah, untuk bangkit kembali setelah terjatuh, dibutuhkan manusia-manusia cerdas berwawasan luas untuk membawa Indonesia kembali maju dan tangguh. Manusia menjadi instrumen penting dalam mendorong semangat untuk bangkit. Namun, bukan pekerjaan mudah karena sejatinya manusia adalah sosok yang sulit dipahami, sulit dimengerti, dan sulit diukur kedalaman berpikirnya.

Manifestasi dari pembentukan dan pemberdayaan manusia untuk mendapatkan sumber daya manusia yang unggul, tangguh dan berkualitas adalah bagaimana mereka dibentuk dan diberdayakan melalui kegiatan peningkatan SDM guna menghasilkan pribadi-pribadi yang dewasa, berkesadaran ilmu pengetahuan dan kreatif di masa depan. Manusia tentu memiliki bakat dan kemampuan yang cemerlang jika diasah lebih baik.

Proses mengasah, memoles, dan mendesain kemampuan manusia untuk dapat tampil lebih hebat dari potensi yang dimilikinya tentu harus melalui sebuah persiapan yang matang. Salah duanya adalah melalui pelatihan dan pengembangan SDM yang konseptual dan komprehensif. Kualitas SDM aparatur sangat memengaruhi keberlangsungan hidup sebuah organisasi, termasuk pemerintah di semua level, mulai pusat sampai desa/kelurahan.

Upaya pengembangan skill dan keterampilan SDM aparatur harus segera dilakukan untuk membentuk aparatur yang berdaya saing tinggi dan siap memberikan kontribusi positif demi perbaikan dan pembenahan pascapandemi COVID-19. Sejatinya, pandemi telah mengajarkan kepada manusia bahwa di balik keterbatasan, ada hal positif yang dapat dipetik, salah satunya, bagaimana memanfaatkan teknologi digital dalam pemberian layanan publik.

Upaya ini juga dilakukan agar SDM aparatur dapat mengendalikan pekerjaannya secara efektif dan optimal untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Pengembangan SDM melalui pendidikan dan pelatihan adalah untuk mengasah skill dan kemampuannya agar menjadi manusia yang lebih unggul dan berkualitas, termasuk mempersiapkan SDM dalam menghadapi tanggung jawab pekerjaan yang lebih besar di masa-masa mendatang.

SDM aparatur yang mumpuni sangat penting dalam sebuah pemerintahan. Apalagi dalam menghadapi situasi pascapandemi COVID-19. Di mana adaptasi pekerjaan pascapandemi harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Orang-orang akan lebih banyak bekerja memanfaatkan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) yang berbasis digital. Orang-orang akan lebih banyak mengembangkan inovasi berbasis aplikasi untuk memudahkan pelayanan publik.

Kondisi-kondisi seperti ini dengan sendirinya akan “memaksa” aparatur untuk mengembangkan potensi dirinya agar memiliki daya saing dan kualitas yang lebih baik, sehingga dapat membantu pemerintah mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengembangkan SDM di tengah pandemi melalui metode daring.

Melihat makna SDM, maka kualitas SDM aparatur akan menjadi kunci sukses untuk masa depan pemerintah yang lebih cerah pascapandemi COVID-19. Kualitas SDM akan sangat pengaruh bagi kelangsungan jalannya pemerintahan. Apalagi pascapandemi, dibutuhkan SDM yang betul-betul paham teknologi, dan menguasai informasi dan komunikasi publik berbasis digitalisasi di tengah tuntutan transformasi inovasi.

Hal inilah yang melatarbelakangi pentingnya kualitas SDM dalam pemerintahan, utamanya pascapandemi COVID-19. Pelatihan dan pengembangan SDM adalah investasi jangka panjang pemerintah untuk dapat bertahan di tengah arus globalisasi teknologi dan informasi. Upaya pengembangan SDM adalah dalam rangka untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap aparatur pemerintah yang berdedikasi, berkinerja, dan profesional dalam bekerja.

Sebuah daerah akan maju dan berkembang, apabila kualitas SDM-nya terpenuhi dengan baik, sehingga dapat memberikan implikasi atau pengaruh yang lebih besar bagi perkembangan suatu daerah. Kita lihat sekarang, banyak daerah mulai berkembang dalam pembangunan bukan karena faktor SDA-nya yang berlimpah, tetapi perkembangan itu dimotori oleh SDM-nya yang mumpuni dan berkualitas. Perkembangan itu dapat dilihat di sektor ekonomi.

Kenapa pemerintah harus mengasah kemampuan SDM aparaturnya? Tiada lain adalah untuk mempersiapkan mereka menghadapi lompatan besar di era revolusi industri 4.0. Di mana dibutuhkan SDM yang produktif, memiliki skill dan keterampilan dalam menghadapi perubahan demi perubahan pascapandemi, yang salah satunya adalah bagaimana menyiasati transformasi digital yang menjadi instrumen penting di era revolusi industri 4.0 tersebut.

Mengacu pada perkembangan teknologi dan komunikasi digital, di mana saat ini manusia berada pada era media sosial yang spasial. Hal ini ditandai dengan adanya integrasi dari dunia maya ke dunia nyata yang disebut juga sebagai dunia metaverse. Transformasi digital ini tentu membutuhkan SDM aparatur yang andal di bidang teknologi digital. Era metaverse akan menandai terciptanya peralihan aktivitas manusia di ruang-ruang dunia maya.

Bagaimana membentuk ekosistem metaverse itu? Salah satu jawabannya adalah melatih secara masif SDM aparatur agar mampu menyiapkan dirinya guna mendukung aktivitas di dunia metaverse. Untuk meningkatkan kualitas SDM tersebut, mereka harus diajak memanfaatkan fasilitas digital, salah satunya adalah dengan membuat terobosan-terobosan dengan menciptakan kecerdasan buatan dalam mengatasi persoalan-persoalan layanan publik.

Hikmah terbesar dalam sebuah peristiwa adalah bagaimana manusia dapat diajak untuk lebih pandai melihat peluang, sekecil apa pun itu, untuk menciptakan hal-hal baru yang berdampak besar. Bukankah setiap kejadian selalu ada manfaat yang bisa dipetik oleh manusia yang mau berpikir dan tafakkur, karena semua peristiwa terjadi atas izin Allah SWT. Metaverse tak bisa mengganti apa yang sudah ada (universe), tetapi bisa memperkaya apa yang telah ada.

Suka tidak suka, mau tidak mau, metaverse akan menjadi bola salju yang terus menggelinding menembus dinding ruang dan waktu. Metaverse yang diumumkan secara publik oleh Mark Zuckerberg (pendiri Facebook) pada 2021, cepat atau lambat akan menjadi lifestyle bagi kehidupan di masa depan. Untuk itu, pemerintah di semua level diharap segera menyiapkan SDM mumpuni yang tak mudah menyerah pada setiap persaingan digitalisasi.

Tak mudah memang, tapi semua harus siap menghadapi perubahan paradigma dan cara pandang Metaverse. Manusia harus bisa hidup dalam ekosistem Metaverse. Manusia harus menciptakan Artificial Intelligent (AI) karena itu akan menjadi ujung tombak teknologi di era Metaverse. Menurut Stefan Brambilla (World Economic Forum), AI akan menciptakan ruang disrupsi kreatif yang nyaris tanpa batas, dan mendorong munculnya ruang ekonomi baru.

Siapa yang akan mendorong semua itu? Tak lain dan tak bukan adalah SDM Aparatur yang nantinya akan ikut terlibat dalam ruang baru yang tercipta di dunia Metaverse. Ada beberapa area pengelolaan SDM yang dapat dioptimalisasi dengan memanfaatkan teknologi dan platform yang tersedia pada dunia Metaverse. (LH)

ADVERTISEMENT