Selama Musim Penghujan, Tim Reaksi Cepat BPBD Palopo Siaga Bencana 24 Jam

29
ilustrasi cuaca ekstrem
ADVERTISEMENT

PALOPO–Beberapa hari terakhir, Kota Palopo diguyur hujan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menyebabkan bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor.

Menyikapi ancaman bencana alam yang dikhawatirkan warga, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palopo, Antonius Dengen mengatakan pihaknya selalu siap dengan kondisi terburuk untuk membantu warga jika bencana melanda.

ADVERTISEMENT

“Kami selalu siap dengan segala kondisi. Apalagi kami memliki Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Palopo yang selalu siap 24 jam jika bencana yang tidak kita inginkan melanda,” ungkap Antonius Dengen, beberapa waktu lalu.

Diprediksi, hujan akan terus menguyur Palopo hingga beberapa hari kedepan. Untuk itu, Antonius Dengen mengimbau masyarakat untuk menjauhi lokasi rawan bencana. Selain itu, dia juga meminta warga untuk berhati-hati bila berada di daerah yang memiliki pohon dan papan reklame.

ADVERTISEMENT

“Apalagi pohon yang sudah tua. Akarnya sudah tidak mampu menahan beban pohon lantaran usia. Itu yang sering membuat pohon tumbang. Utamakan keselamatan diri,” imbaunya.

“Perlu saya sampaikan bahwa curah hujan malam saat ini cukup tinggi. Solusinya tetap menjaga kebersihan drainase sehingga air bisa lancar/tidak tersumbat sampah. Kebersihan drainase adalah tanggungjawab bersama,” sambungnya.

ADVERTISEMENT

Dia berharap, masyarakat aktif memantau informasi dari BMKG. Dengan begitu masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar rumah jika hujan turun. Hal itu juga dapat memberikan rasa aman dan nyaman dalam beraktivitas.

“Sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah. Jika tidak ada hal yang penting, lebih baik di rumah saja. Apalagi, Covid-19 masih ganas-ganasnya,” ungkapnya.

“Tetap waspada dan kalau ada sesuatu agar segera menghubungi pemerintah setempat. Bisa info di TRC BPBD Palopo 081242362552 dan 082187343867,” sambungnya.

Kondisi ini, diduga dipengaruhi dengan fenomena aphelion. Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal mengatakan, posisi matahari memang berada pada titik jarak terjauh dari bumi (aphelion).

Tapi, kondisi tersebut tidak berpengaruh banyak pada fenomena atmosfer permukaan. Aphelion merupakan fenomena astronomis yang terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli.

“Sementara itu, pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim kemarau. Hal ini menyebabkan seolah aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia,” kata Herizal.

Menurut Herizal, fenomena ini merupakan hal yang biasa terjadi tiap tahun. Bahkan hal ini pula yang nanti dapat menyebabkan beberapa tempat seperti di Dieng dan dataran tinggi atau wilayah pegunungan lainnya, berpotensi terjadi embun es (embun upas) yang dikira salju oleh sebagian orang.

Fenomena suhu udara dingin sebetulnya alamiah dan umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau (Juli-September). Saat ini wilayah Pulau Jawa hingga NTT menuju periode puncak musim kemarau. Periode ini ditandai pergerakan angin dari arah timur, yang berasal dari Benua Australia.

Herizal menyatakan, pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia.

“Angin monsun Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin, sehingga mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) terasa juga lebih dingin,” ujarnya.

Selain dampak angin dari Australia, tutur Herizal, berkurangnya awan dan hujan di Pulau jawa hingga Nusa Tenggara turut berpengaruh ke suhu yang dingin di malam hari. Sebab, tidak adanya uap air dan air menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer. Tak hanya itu, langit yang cenderung bersih awannya (clear sky) akan menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepas ke atmosfer luar.

“Sehingga kemudian membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin terutama pada malam hingga pagi hari. Hal ini yang kemudian membuat udara terasa lebih dingin terutama pada malam hari,” tutur Herizal. (ayb/liq)

ADVERTISEMENT