Wabah Virus Corona di Sulsel Hilang Sebelum Ramadhan Berakhir, Gubernur: Tapi Ini Syaratnya

1908
Gubernur Sulsel, Prof Nurdin Abdullah
ADVERTISEMENT

MAKASSAR – Gubernur Sulsel, Prof Nurdin Abdullah menyakini Sulsel dapat bakal terbebas dari wabah virus corona,Covid-19, sebelum Ramadan berakhir. Meski demikian, hilangnya wabah covid-19 ini tak lepas dari peran dan kedisiplinan warga mematuhi aturan yang telah ditetapkan.

Menurut Gubernur, keyakinan tersebut, tentu tidak mudah untuk dicapai. Apalagi Kota Makassar telah menjadi episentrum penularan virus di Sulsel.

Untuk itu kata Nurdin, pihaknya telah mengupayakan berbagai langkah tepat agar pandemi ini segera berakhir, salah satunya menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk memutus penyebaran virus ini.

Hanya saja, lanjut Nurdin, kebijakan PSBB tersebut memerlukan dukungan dan komitmen masyarakat Sulsel, sebab menjadi kunci keberhasilan Sulsel mengatasi pandemi ini. Nurdin menilai PSBB akan efektif sebagai sebuah kebijakan untuk menekan penyebaran Covid-19.

ADVERTISEMENT

“Saya tidak ada pikiran untuk memperpanjang PSBB. Tetapi kita ingin betul-betul masyarakat Kota Makassar, Gowa, yang menerapkan PSBB ini betul-betul disiplin. Kita komitmen bersama untuk berdiam diri di rumah, jika tidak ada urusan mendesak,” tutur Nurdin dilansir KORAN SERUYA dari Sindonews.com.

Nurdin berharap, masyarakat dalam penerapan PSBB ikut serta menjalankan protokol penanganan Covid-19. Dengan membatasi aktivitas di keramaian, menggunakan masker jika keluar untuk urusan mendesak, dan rajin cuci tangan.

ADVERTISEMENT

Bagi masyarakat yang terlanjur pernah kontak dengan pasien positif Covid-19, diharapkan segera isolasi mandiri di rumah. Jika ada gejala yang dialami, segera melapor dan memeriksakan diri di rumah sakit rujukan yang disiapkan Pemprov Sulsel.

“Saya kira semakin cepat kita sadar, semakin membangun komitmen, membangun disiplin yang sama, saya yakin dan percaya mudah-mudahan sebelum akhir Ramadan, kita sudah bisa menikmati kebebasan (dari Covid-19),” ujarnya.

Bukan tidak mungkin, Sulsel bisa menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang pertama terbebas dari virus korona. Jika warga ikut mendukung kebijakan pemerintah; disiplin dalam upaya menerapkan physical distancing.

“Jadi saya kira kesadaran masyarakat Sulesl kita harapkan dan ambisi saya adalah kami ingin yang pertama keluar dari virus korona di Indonesia. Mudah-mudahan Sulawesi Selatan menunjukkan kondisi yang sangat baik sehingga korona ini bisa tuntas di sulssl sebelum Ramadan. Itu ambisi kita, tapi kalau disiplin masyarakat masih begini-begini, saya yakin perjalanan kita masih panjang,” paparnya.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 ini menambahkan, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi persoalan ini. Salah satunya, menyediakan logistik atau pangan kepada masyarakat bagi warga terdampak selama penerapan PSBB.

Pelayanan kesehatan untuk perawatan Covid-19 di tiap rumah sakit (RS) dibenahi. Di Sulsel, bahkan sudah memiliki tiga tempat untuk uji Covid-19, yakni laboratorium Unhas, Balai Laboratorium Kesehatan Makassar, dan laboratorium kesehatan daerah di Soppeng yang baru saja diresmikan beberapa waktu lalu.

Pemprov Sulsel secara khusus menyiapkan tempat karantina bagi warga berstatus orang dalam pemantauan (ODP) yang ditempatkan di Swiss-Bellhotel Makassar. Warga ODP dinilai rentan menularkan atau dianggap sebagai pembawa virus, makanya sejak dini harus dikarantina sejak awal untuk mendapat penanganan.

Refocusing atau realokasi anggaran pun dilakukan. Hasil realokasi anggaran yang sebelumnya ditargetkan Rp500 miliar dialihkan khusus untuk penanggulangan Covid-19. Refocussing anggaran ini berasal dari hasil rasionalisasi belanja kegiatan non-prioritas Pemprov Sulsel.

“Tapi Covid-19 ini kita tidak mungkin memotong rantai penyebarannya hanya dengan anggaran yang besar, tapi dibutuhkan disiplin yang kuat, komitmen yang sama, kesadaran yang sama bahwa wabah virus korona ini menular secara massif kepasa orang-orang yang sehat, kalau kita tidak mengikuti protokol kesehatan,” urai dia.

Masyarakat Sulsel turut diminta untuk tidak melakukan mudik sementara waktu. Menurut Nurdin, aktvitas mudik di tengah kondisi saat ini, justru semakin berpotensi menularkan virus ke orang. Makanya, larangan mudik ini diharapkan dilakukan demi melindungi keluarga di kampung halaman masing-masing.

“Tentu kita berharap walaupun kita merasa sedih tisak bisa mudik tapi dari jauh mohon didoakan Sulsel mudah-mudahan bisa terbebas segera dari virus korona. Dan tentu sekali lagi saya sampaikan, di Sulsel Alhamdulillah sekarang lagi perang melawan Covid-19. Tentu ada lenundaan mudik sudah sangat menolak pemerintah untuk memotong mata rantai penyebaran Covid,” harapnya.

Bagi warga Sulsel, termasuk mahasiswa, yang saat ini masih berada di perantauan atau menempuh pendidikan di tiap wilayah di Indonesia, Nurdin mengaku akan memenuhi kebutuhan logistik mereka. Pendataan terhadap warga Sulsel di tiap daerah, juga terus dilakukan.

“Seluruh masyarakat Sulsel, dimanapun berada yang telah betul-betul menunda mudik, kepada adik-adik saya para mahasiswa dimanapun berada, yang tentu kali ini tidak bisa pulang kampung, mudik, mohon disampaikan ke kami, berapa banyak saudara-saudara kita dimanapun, tentu pemerintah siap memberikan logistik untuk kebutuhan mereka,” tukasnya.

Pemprov Sulsel memiliki kantor Badan Penghubug Daerah di Jakarta, tepatnya di Jalan Yusuf Adiwinata. Di lokasi tersebut, kata Nurdin, siap memfasilitasi para warga Sulsel diperantauan.

“Kita punya kantor penghubung di Jakarta, di jalan Yusuf Adiwinata. Disana sudah siap mendata semua mayarakat Sulsel yang terdampak Covis-19. Bagi daerah yang tidak ada kantor perwakilannya, langsung ke pemprov saja menyurat memberikan data ke kita. Insya Allah segera kita akan penuhi kebutuhan-kebutuhan logistik selama Covid ini,” paparnya.

Data pantauan di portal Covid-19 Sulsel per tanggal 26 April 2020 pukul 17.09 WITA, total kasus positif virus korona mencapai 440 orang. Dengan rincian, 299 diantaranya masih dirawat, 36 meninggal. Lalu 23,9% diantaranya atau 105 orang dinyatakan sembuh.

Nurdin mengaku hal ini kabar baik bagi Sulsel. Dia menganggap, tingkat kesembuhan pasien Covid-19 yang terus meningkat ini buah dari pembenahan fasilitas kesehatan dan perawatan yamg maksimal terhadap pasien selama menjalani masa isolasi di rumah sakit.

Salah satunya yang didorong adalah pemenuhan gizi yang tercukupi bagi para pasien agar imunitasnya meningkat. Nurdin mengemukakan, selama ini makanan dan minuman yang disediakan untuk pasien, harus sesuai ddngan anjuran ahli gizi.

“Kita sekarang menuji perbaikan gizi. Jadi semua rumah sakit kita cateringkan (makanan. Keinginan kita ada pendamping ahli gizi yang sesuaikan menuya. Supaya betul-betul proses penyembuhan ini adalah gizi. Harus bergizi bagus, vitaminnya baik,” tutur dia.

Tidak hanya pasien, para tenaga medis dan dokter di tiap rumah sakit rujukan juga difasilitasi penginapan khusus di hotel. Mereka ditempatkan disana sehabis bertugas, untuk menghindari penularan di keluarganya jika pulang ke rumah masing-masing.

“Selama ini mereka tidak boleh ketemu keluarga karena kita takut nanti terjadi penularan lagi. Jadi Alhamdulillah, bisa dikata paramedis kita bisa terjaga dengan baik, stamina terjaga, karena makanannya kita catering-kan. Kita berikan gizi baik, kita beri vitamin,” jelas Nurdin. (*/tari)

ADVERTISEMENT